Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Ceritaku

Satu Atap beda Dunia

Sudah 3 pekan, namun sosoknya masih membekas di benak ku. Simbah Kakung, sosok terdekat yang isnpiratif. Dan tulisan ini juga terinspirasi oleh sosoknya. Sudah 2 pekan aku berada di Jakarta, dan selama itu pula mataku terbelalak lebar tentang kehidupan di Ibukota. Dan selama dua pekan pula aku berfikir tentang rumah, mamak, bapak, biyung dan adekku puput. Berfikir tentang kehidupan di Banjurpasar (sebuah desa yang terletaak dipesisir kebumen) hingga omongan mba yenika tentang pendidikan Indonesia.  Setelah beberapa hari tinggal di jakarta saya membayangkan rumah-rumah di banjurpasar dan bisa jadi termasuk rumahku. Di sana saya sadar telah berjumpa dua dunia dalam satu atap. Mereka menyantap makanan dan minum dari sumber yang sama, namun anak dan orangtua seperti menjalani hidup yang berbeda. Saat sang anak bersiap ke sekolah, ibunya memasak dengan kayu bakar dan merapihkan rumah, lalu berangkat ke sawah atau mengerjakan pekerjaan rumah lain seperti membuat emping atau membuat ta...

Bamboku, Part II

M asih tentang Bamboku.  Hal yangmenarik dari seorang Hidung merah adalah sikap ambisisusnya.  Bamboku dilahirkan sebagai rakyat jelata. Saat muda ia berkeinginan untuk memiliki istri dari kalangan bangsawan untuk meningkatkan elektabilitasnya. Iapun berusaha menjadi pemuda yang cekatan dalam perdagangan agar bisa meminang seorang anak bangsawan. Tak lama kemudian ia pun berhasil mewujudkan keinginannya dan meminang anak seorang pejabat, walaupun pejabat rendahan.  Seiring berjalanannya waktu ia-pun merancang bagaimana perdaganganya semakin besar dan menjadikanya sebagai saudagar terkaya. Ia melakukan berbagai langkah termasuk ikut dalam dunia politik. Ia menjadikan Genji Yoshitomo sebagai patron politiknya dengan membantu pemberontakan Yoshotimo terhadap pemerintahan perdana mentri Senzhei. Setelah Genji kalah oleh Heikei, Bamboku-pun berpindah arah ia berbalik memihak pada Heikei. Ia menjadi kawan politik yang baik, bahkan Bamboku menjadi salah satu penasehat Kiy...

Menepi, dan pulang

lambat laun mereka pergi dari pikiran, menyisakan suatu pengertian, bahwa sudah saatnya aku harus kembali ke hutan.

Pledoi sebagai Mahasiswa!

Sudah lama aku tidak menghadap monitor, menyuntuki sebuah tulisan; entah itu karya fiksi, essai, review , ataupun sekadar catatan harian. Disaat-saat seperti ini aku mendapati diriku seperti seorang pelaut yang enggan singgah. Seorang pelaut yang terus menantang ombak dan malam, tak hendak menepi, melego jangkar, untuk kemudian melepas lelah pada surau di suatu pesisir sebuah kota yang entah. Aku kira, perlu juga untuk mencuci muka, melarutkan bau asin dan bau malam. Laut tak berbatas sejenak aku tinggalkan dibelakang, bersama bau asin dan malam. Gelap dan tak terduga. *** Hari ini hari selasa, 13 Desember 2012. Ini hari pertamaku kembali ke kampus, kembali pada lembaran teks-teks yang dimuntahkan melalui mulut orang-orang tua yang berdiri di depan laptop dan papan tulis. Ini hari pertamaku setelah berlibur kembali pada rutinitas yang sangat terukur dan pasti. Dua hal yang paling aku benci dalam hidup ini, sekaligus membutuhkannya. Seorang teman menghampiriku, men...

Lekas Sembuh

Masih jelas dalam ingatan. Tentang bagaimana digdaya kau melangkah. Menapaktilasi setiap sudut kehidupan. Juga tentang seberapa cerah wajahmu ketika ceria. Bersimpul senyum penuh pesona. Merupa tarian seribu malaikat yang memikat. Atau tentang semangat juangmu menerjang terjal jalananan.  Kesabaran.  Keteguhan.  Ketegaran.  Kekokohan jiwa tuk bertahan dan berdiri tegak.  Segalamu. Tergambar jelas dalam benak. Tak mungkin terlupa. Karena mengenalmu adalah yang teristimewa.  Sampai suatu ketika, kuasa langit menginginkanmu untuk jatuh. Sesaat setelah penyakit menggerogoti sehat dan kuatmu secara perlahan. Punggung yang dulu tegap, kini meruntuh pasrah. Memaksamu untuk lemah. Derap kaki yang dulu tegak, perlahan goyah. Hampir patah. Daya tak lagi seperti biasanya. Luntur, memudar, tak bersisa.  Tapi, itu hanya katamu.  Bagiku, asamu masih terang menyala. Menjelma pelita malam yang sinari kelam. Berwarna jingga keemasan yang pukau menenteramkan. ...

Menjadi Orang Lemah

Di malam minggu ini rasanya sendiri, bahwa aku memang bukanlah melankolis. Melankolis adalah tipe orang yang amat peduli dan empati terhadap sesama, sehingga kehidupannya sangatlah dilingkupi orang-orang sesama melankolis yang peduli juga. Selama ini saya hanya peramai, hanya sosok yang dikenal sebagai teman biasa. Ikut dalam senang-senang, sekedar sedih kala berduka. Saya nggak punya temen yang benar  private mengerti dan peduli dengan kehidupan saya. Bahkan untuk saya sendiri mencoba share kepada kawan jadi amat sulit. Saya dipandang sebagai sosok kuat, hidupnya hanya untuk orang lain tanpa perlu orang lain ngerti soal saya. Saya bilang, yea its fine dan orang akan kembali tenang. Saya merasa sebenarnya hidup ini begitu sepi saat sendiri, ketika sehat saya selalu melihat sesuatu untuk saya kerjakan. Hidup pun tak terasa habis untuk pekerjaan itu. Saat sakit barulah terasa, nyatanya nggak ada yg bisa saya kerjakan. Hidup pun jadi sepi, karena hidup ini ta...

Habis galau terbitlah terang

Bismillah Semester Lima bagi kebanyakan orang, semester ini adalah semseter paling membosankan. Tetapi berbeda denganku Semster lima bagiku Istimewa dan sudah saatnya merapikan diri agar nampak pantas untuk menyandangnya. Jalanku memang berbeda dengan orang kebanyakan, karena diriku memang diriku. Awal masuk dan diterima menjadi mahasiswa UNY dengan jurusan PKnH menjadi tekanan batin tersendiri bagiku. Mengapa tidak? Aku yang awalnya adalah seorang siswa dengan jurusan IPA dan maling suka pelajaran KIMIA dengan cita-cita menjadi Insinyur dibidang Kimia harus masuk jurusan PKnH yang notabennya adalah anak sosial. Menjadi mahasiswa dijurusan PKnH adalah penjara, yang mengekang kehidupanku dulu. Hal inilah yang menjadikanku mendapatkan nilai IP 3,09. Sesuatu yang setengah hati memang hasilnya tidak maksimal. Dan ini masih membekas hingga semester 2 yang hanya mampu memperoleh IP sebesar 3,34. Awal semseter tiga, menjadikanku giat menuju perpus mencari Ilmu mengejar teman-teman...

Kalut

Bismillah Rindu pena kecilku. Akhhir-akhir ini pena kecilku patah, dan enggan untuk diasah lagi. aku tak tahu pasti penyebabnya, yang jelas pikiranku sedang kacau. Sekacau benang kusut. Menyeleksi pikiran-pikiran liar dari luar yang sangat kuat menekan otakku. Jika otakku bisa berbicara mungkin ia akan berteriak “STOP!!  Overlimit ..!!!” tapi syukurnya ia tak bisa berbicara. jadi kagak nambah beban. Hemmm…, selain pikiran yang sedang kacau dengan pikiran-pikiran liar diluar sana, aku seringkali disibukkan dengan kenikmatan dunia. Buat masalah yang satu ini mungkin aku nggak boleh toleran, karena udah tahu dan bisa menuliskannya berarti ada konsekuensi logis gua nggak boleh ngulanginnya lagi. jadi inget dengan setatus FB..heleh-heleh, udah tahu salah masih aja pada ngulangin. (edisi TOMAT kali ye??) Berbicara pikiran liar banyak sekali pergolakkan yang ada dalam diriku. Mungkin ini adalah salah satu dampak perkembangan ilmu yang dominan dari barat yak? Sartre contohn...

Sobat aku bersamamu!

Jejak langkah itu cepat nian, cepat secepat tarikan nafasnya kian jauh, kian mendaki gunung yang tinggi itu hingga terengah-engah dan duduk di antara bongkahan batu yang berbentuk bangku itu. Dengan wajah yang lelah namun masih terbesit semangat dalam raut wajahnya itu. siapa dia?? dalam hatiku bertanya-tanya.begitu semangatnya orang itu tuk mendaki lereng gunung ini. lereng yang terjal. Mencoba ku susul langkah cepatnya itu namun lagi-lagi aku harus terseok-seok diantara batuan yang mengangah dan ilalang berduri. Terlebih lagi matahari kala itu sedang tak bersahabat. Namun bayangan orang itu terus melaju tanpa henti.sempat terbesit untuk menyudahi saja perjalanan ini. Namun rasa penasaran yang membuncah ini tak sanggup dibendung. Hingga tiba-tiba ditengah perjalanan nampak bayangan itu terhenti. "kenapa tuh orang ?" dalam hatiku bertanya-tanya." hemmm....mungkin capek, " akupun mencoba untuk menerka-nerka penyebabnya. Dengan gesit ku ambil kesempat...

Kejadian di Pagi hari

meneyentuh dedaunan yang masih basah terembunkan kesejukan meresap berpacu sealiran darah terhantarkan oleh ujung-ujung jari akal telah sedari tadi terbangun telah berputar kembali mengingat kenangan sehari yang terlampaui kenangan akal dalam sebuah pagi Bismillah.. langkahkan kaki pagi sedikit menapak menyusuri setapak ahh... terik mentari mengusik telinga dan separuh wajah dari kiri berpaling kutatap tantangan maha cahaya ahah.. dia seperti menyapa membelai wajah dengan kelembutan ultraviolet bulu-bulu di tubuh mulai berdiri tersapa cahaya terbangunlah kekuatan terbesar dalam semangat melanjutkan kenangan akal dalam sebuah pagi ya.. kenangan akal dalam sebuah pagi belum tersadar dari ketaktakjuban daun-daun dan embun-embun dan terbuai oleh mandian cahaya mentari malu pagi tiba-tiba tiba-tiba riuh rendah siul bernada lengking indah dengan irama mendayu mengejutkan takjubku akan pagi itulah nyanyian burung-burung pagi jelas ditelinga meskipun tak tertangkap oleh...

Kaku

Namaku Yekti Orang yang sok puitis tapi tak bisa puisi Harga diri adalah harga mati Hingga harga diri bagiku lebih tinggi dari hartaku Dan kaku seperti kayu jadi maaf jika aku kaku Karena aku adalah aku Diantara kebanyakan orang aku adalah orang yang tak bisa mengekspresikan perasaanku terlebih lagi soal mengungkapkan rasa sedih dan sayang. sayang sama orang tua, saudara, dan semua yang ada dibumi. hemmmm... agak lebay sih, tapi itulah aku

Bangun!

Cepat bangun! dan segeralah lihat ke langit          sudah ku lukis dua buah pelangi untukmu                         Yekti Ambarwati...

Detik yang Berdetak II

Hanya Sesak didada yang kualami selama dua hari ini. " hemmmmm ... mungkin karena kurang syukur kali yak .."Namun selama dua hari ini ada pelajaran yang berharga bagiku,, karena " Detik yang Berdetak " Detik yang telah berdetak adalah takdir, bersabar dan bersyukurlah Detik ini adalah nasib, rubah dan berusahalah Detik yang akan berdetak adalah ghaib, berharap dan berserah dirilah Karena detik yang berlalu memberikan pelajarn bagiku dan memunculkan kata "Seharusnya". "Seharusnya" memiliki makna yang luas bagiku, ia melambangkan penyesalan, namun ada hikmah dibaliknya sehingga kita mampu mengambil sikap jika berulang. Dan untuk detik yang berjalan ini aku tak akan mengulangi kesalahanku yang lalu, karena ku telah mengatakan "seharusnya" tidak begini dan begitu... jadi masih dapat dirubah apa yang akan terjadi dengan berusaha Detik-detik yang mendatang adalaha harapan karena ghoib.   Detik-detik tak akan terulang..   D...

Menghakimi

Siluet keharmonisan senja mulai kabur ketika kau bertanya Siapa yang melakukan ini?? kau yang melakukanya? Bukan, bukan aku yang melakukanya Ah, pasti kau yang melakukannya Sungguh buka aku yang melakukanya Tapi aku masih yakin kau yang melakukannya Baiklah, aku akan melakukannya _Ruang penuh Label_ Djogja, 29 Maret 2012

Simfoni Hitam

Lisan ini..ah.. benar kata pepatah “Tajamnya pedang lebih tajam lagi lisan” ini terjadi padaku. Seperti malam-malam biasanya sebelum menutup mata menuju pulau kapuk aku dan kakaku selalu menyempatkan untuk berdiskusi. Berdiskusi mengenai segala hal dari masalah Politik, sosial, ekonomi hingga kehidupan kampus. Perbedaan mengenai suatu masalahpun sering tak terhindarkan, namun berbeda kali ini Kakakku merasa yang ku katakan tak pantas terlebih lagi menurutnya hal tersebut semaikn mencerminkan  aku adalah orang “”Egois”

Rindu Rumah

Bismillah... “Pulanglah nak…., saudara-saudaramu menunggumu.”uajar seorang kakak kepada adiknya yang bingung menuju jalan pulang.   “Tapi kak, dirumah sudah terlalu banyak orang-orang yang lebih baik dari ku, aku pergi saja dan mencari rumah yang jarang dan bahkan tak ada penghuninya,”jawab adiknya.

Baru

Baru, ketika kata ini muncul maka akan muncul perasaan senang, seperti anak kecil ketika diberikan mainan baru oleh orang tuanya. Tapi bukan itu yang kurasakan kini. Entah apa yang kurasakan sekarang akupun tak tahu, yang jelas hatiku kalut seperti benang yang kusut. Kini aku berada ditempat yang berbeda. Gemuruh disini sangat kejam. Hujan disini juga terlalu deras. Walau banyak ilmu yang kudapatkan, tetap saja ilmu itu tak melulu menyenangkan ketiaka itu. Ingatan saya masih jernih ketika kuputuskan untuk mampir ditempat ini awakku mriyang tiga hari tiga malam . Oleh karena itu hati ini selalu meyakinkan apakah benar akan keputuskanku. Tempat ini terlalu ramai bagiku, yang tak pernah mencicipi dunia luar selain rumah dan sekolah. Terlebih lagi ada beberapa penghuni rumah ini yang sedikit tak percaya denganku. Mungkin karena aku berbeda dengan kebanyakan penghuni disini.

Jawaban atas Kesedihanku

Hari ini hari Jum’at, hari yang mendung semendung hati ini. Entah mengapa dari pagi ketika ku bangun dari ranjangku di Kebumen hingga aku samapai di Jogja rasa sedih yang menyelimuti hati ini tak kunjung pergi. Terlebih lagi pikiranku dibebani oleh serentetan tugas menanti di buku coklat, tempat kutuliskan kegiatanku selama seharian. Dari bangun tidur hingga malam menjelang. Seharin inipun kujalani dari mengerjakan tugas HTN (Hukum Tata Negara), mengerjakan pesenan Sertifikat hingga Rapat dan membahas isu kampus di rumah belajar Ekspresi. Walau hanya ada tiga agenda namun ini semua sangat membutuhkan waktu yang lama. Hingga harus pulang pada pukul 9.15 malam

Sepi

Titikan hujan membahasi bumi, berakibat semerbak bau tanah. Ketika itu aku pulang dari sebuah acara di Taman Kihadjar salah satu taman yang asyik buat ngumpul dan berdiskusi di sudut kampus. Karena lebatnya hujan, apalagi waktu sudah menunjukan sholat asar. Akhirnya kuputuskan untuk berteduh di sebuah Masjid kampus. Masjid Mujahidin, yang berada di sebelah barat Fakultasku.

Salah sangka

Gubrakkkkk…gubrakkkk…!!! Itulah akibat dari keasyikan main game hinggga lupa waktu buat kuliah. Hari ini, Selasa 14 Febuari 2012 adalah kuliah hari pertama “Kewirausahaan”. Ketika tahu semester ini ada matakuliah wajib “Kewirausahaan”, maka yang ada dalam pikiranku adalah jualan. “ Oh my God …, jualan?? Bukan gua banget….”hati kecilku pun ikut memberontak, tapi apa boleh buat berhubung ini adalah mata kuliah wajib untuk semester ini maka harus ku jalani. Bushhhhhhh…… !!!dengan langkah seribu ku menuju ruang kuliah di G.02. 202, serasa nafas ini mau copot.. Thok..thok..thok … ku ketuk pintu dengan rasa berdebar, bak langit mau rontok (lebayyy..) “maaf bu terlambat,” ujarku sambil cengangas-cengenges… Bu Chandra, dosen kewirausahaanku pun mempersilahkanku duduk. Berhubung, bangku belakang sudah terisi penuh, akupun duduk di deretan terdepan,, deretan penghargaan bagi para mahasiswa yang hobinya telat.  Awalnya berat sekali rasa hati ku mengikuti kuliah ini, ini a...