Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi Kehidupan

Sahabat :D

Lewat sebuah perjalanan Kita dipertemukan Satu demi satu kebersamaan itu Kian mendekatkan hati kita Saling mengenal dan menempati hati Saat kasih ada diantara kita Kala senang…kala sedih… Akan ada yang mengulurkan tangannya Akan ada yang menyediakan pundaknya Akan ada yang menyiapkan telinganya Dan seutas senyum untuk sahabat YaLogic, 20 Januari 2013

Bolehkah Berhenti?

Berhentilah makan sebelum kenyang Berhentilah minum sebelum kembung Berhentilah bekerja sebelum terkapar Dan itulah yang selalu ingin ku lakukan hanya ingin istirahat .. bolehkah aku sedikit egois?? Djogja, 9 Oktober 2012

Kembali

Kadang hidup dihujani kepenatan. Tak dapat berpikir ataupun mengerti, hanya kegundahan yang datang menghampiri. Melepaskannya memang terasa sulit, tapi mencoba tak ada salahnya. Karena bumi tak menyediakan, maka kembalilah kepada-Nya Djogja, 20 September 2012 -YaLogic-

Habis!!!

Habis kata Habislah kita Maka Ombak, bukanlah pantai Maka deru, bukanlah kereta Maka Hujan, tak hendak basah Maka Pahit, tak pasti melidah Tapi perih, tentulah luka Meski ucap tak jadi kata Maka habislah kita Dan, aku... Hanyalah aku Dan, kata Hanyalah batu karena jiwa telah layu

Ukhuwah itu sederhana

Aku butuh luka yang lebih perih dari ketika kau menabur garam pada sayatan yang menganga aku butuh tangis yang lebih sendu dari ketika kau meratapi sebuah kehilangan Agar  bisa menerima ukhuwah yang paling sederhana lebih dari sedekahnya seorang pengemis untuk pengemis lainnya dan ukhuwah memang bukan harga tapi  nilai tak terukur, sesederhana apapun adanya Seperti tunas-tunas belia yang mengecup cahaya Seolah matahari adalah kekasih yang dia rindukan Hingga terus tumbuh menjadi pohon dewasa  Djogja, 15 September 2012 teruntuk saudara yang menanyakan tentang ukhuwah

Hatilah penyebabnya

warna jingga merona di ufuk senja menghiasi indahnya cakrawala. Sang surya pun perlahan mulai tenggelam di balik awan kelam. Dan sebentar gelap pun akan menyelimuti semesta. Tampak diriku sedang berdiri terpaku sambil menatap langit yang mulai menggelap. Desir sang bayu terasa lembut menerpa wajahku. Yang sambil membisikkan rayuan ke dalam anganku. wajah yang belakangan seringkali kusam karena ulahku Perlahan ku gambar seketsanya Dan kulihat satu guratan jelas penyebanya Ohh....  Perih...!!! Hati, ternyata hatilah penyebabnya Djogja, 15 September 2012 Jagalah hati, karena hati adalah pengendali jagalah hati, dengan mengingat Sang Pemilik hati

Berbeda

Sejenak ku tutup mata mencari ketenangan di tengah keramaian untuk sebuah peristiwa yang mengorbankan perasaan Bagiku, itu biasa karna "aku" yang telah membiasakanku terhadap kesalahanku tapi bisaa juga karena "kau" ah.. entahlah berbicara "aku" dan "kau" selalu menguras emosiku karena "kau" dan "aku" tak ingin bersatu perbedaan bukanlah alasan walau perbedaan sering memunculkan -YaLogic- Djogja, 15 September 2012

Terimakasih

Aku menikmati senja yang gelisah dengan lentera berlumur jelaga merebah pada hulu air yang keruh sisakan tanya kian bertalu Kunang-kunang enggan hinggap diranting jiwaku sekedar terangi pekat sembilu masygul rupa dan rasa yang sirna menelan mimpi-mimpi yang payah Senja ini tak berhias seperti mauku tak sepertimu selalu mewarnai hatiku senja ini kian jengah menemuiku tak sepertimu selalu membunuh kesepianku

Tanpa-Mu

aku rebah di pangkuanMu bukan tuk mengadukan beratnya beban langkahku aku menangis di pangkuanMu bukan tuk mengadukan beratnya beban di pundakku aku menangis di pangkuanMu karena memang aku tak berdaya tanpaMu aku menangis di pangkuanMu karena aku takkan bisa hidup tanpaMu dan aku selalu ingin menangis di pangkuanMu karena memang aku selalu rindu rindu menangis di pangkuanMu selalu

Cinta & Benci

Ketika manusia menanam cinta Cinta akan tumbuh di dalam jiwa Ketika manusia menanam benci Benci akan tumbuh di dalam hati Ketika manusia pergi Cinta dan benci akan tetap bertumbuh di bumi Kebaikan dan keburukan akan kembali kepada dirinya sendiri...

Antara Aturan dan Kesadaran

Bercerminlah pada masa lalu Politik adu domba hanya untuk menjarah kekayaan alam yang kaya raya Dimana kita hanya menjadi budak-budaknya saja     Ataukah kita memang sudah tak punya lawan Sehingga harus selalu berkawan dengan pertikaian Dikarenakan ego dan kesombongan     Telah berdiri kerajaan-kerajaan baru di nusantara Namanya partai A, B, C,….. banyak lainnya       Dan telah lahir berhala-berhala dari tangan putra-putri ibu pertiwi Namanya isme-isme dan undang-undang sesuka hati     Lalu yang menjadi pertanyaannya? Negara ini mau dibawa ke mana dan menjadi apa? Kita ini mau ke mana dan menjadi apa? Lantas Aku ini apa dan aku ini siapa?     Bukankah aturan dan kesadaran itu bagai dua sisi mata uang Bukankah aturan dan kesadaran itu bagai telur dan ayam Bukankah aturan dan kesadaran itu bagai ilmu dan amal.

Pendakian Senja

Sebuah cerita di siluet senja keharmonisan persahabatan adalah sebuah perjalanan ibarat mendaki sebuah puncak pegunungan walau ribuan jalan pulang kan memisahkan ribuan pendakian kan menyatukan kerinduan rindu yang mengisahkan ribuan bingkai kenangan bersama ribuan jejak kaki yang berjalan beriringan dimana beban menjadi ringan dimana rintang tak menjadi penghalang tuk menghantarkan pada sebuah tujuan malam dimana kabut menghilang lampu lampu perkotaan dihamparkan mengerdilkan ego dan kesombongan kemudian lelah pun telah rebah di antara senandung senandung alam rerumputan ilalang reranting dan dedaunan semua berdendang bersama perapian yang menari di dinginnya hembusan angin malam semua terlentang menghadap bentang langit malam dimana bintang bintang menemani sang rembulan berlarian menari hingga satu dua berjatuhan lalu menghilang dan semburat fajar pun datang membentang bersama senyuman ...

Catur Berdebu

Dengan gagah para domba tertawa Dalam sebuah turnamen yang ia cipta Meraup tawa dalam duka Membuat luka semakin menganga Saudara kembar memainkan bidak catur Seolah bertempur dengan alur Mengadu domba…domba pun beradu Seolah rupiah bisa merayu Aku dan negeri ini menangis Menangisi hati yang beku Menyaksikan potret rumahku Di hancurkan oleh debu

Menari Bersama

Terlihat iring-iringan di kejauhan Dendangkan lagu-lagu kehidupan Kawan Teruslah menari Temani mereka yang menari Walau dengan tarian beda Tambahkan nada yang kita punya Agar warnai indahnya kebersamaan Dalam jalan yang teramat indah diciptakan Semoga indah hari-hari kedepan Semoga indah perjumpaan Dengan yang menciptakan keindahan -Ruang dialektikaku. Djogja, 30 Maret 2012

Diam

satu dua hari aku diam dua tiga minggu masih diam, empat lima bulan ku masih diam, sampai bulan tak bersinar dan mentari telah sirna _Ruang tanpa kata_ Djogja, 28 Maret 2012

Pagi

Pagi yang indah kujelang kembali Menghempaskan mimpi meraih bergantinya hari Di ufuk timur tersirat cahaya kedamaian Membangkitkan semangat menghangatkan perasaan Hembusan angin menemaniku berjalan Mengiringi langkah berpadu dalam kepastian Gemersik dedaunan bak irama kehidupan Selalu setia menyanyikan lagu kemenangan Dalam menggapai makna cita dan cinta Dalam mewujudkan makna hidup yang sesungguhnya Biarkan pergantian hari terus berjalan Karena setiap saat akan selalu kujelang

Bimbang

Semua tanyaku hanya terlempar ke langit kelabu yang masih saja asing Luap rasa menggores bimbang diam; emas bagi jiwa yang mengaku pengecutt!! Menelingkung?! ataukah pengecut dalam tempurung bisu Ditetiap hujam kata yang memaku pilu satu satu makian terhampar, segenap diri jatuh sudah  Entah… lantak sudah harap letih, menghempas semua tanya Biarkan saja semua tanya ini terlempar ke atas sana biarkan bintang-bintang saja yang mengerti