Langsung ke konten utama

Catatan Kecil

Sebelum angin itu membadai
Mengumpulkan benih-benih hujan
Lalu turun ke jalanan
Membersamai debu, ranting-ranting rapuh dan kotoran
Yang mungkin akan memporak-porandakan impian

Korup adalah kesadaran menyalahi aturan

Lalu yang menjadi pertanyaannya
Bagaimana jika aturannya yang menyalahi dan menyimpang dari kesadaran kemanusiaan (korup)?

Apa yang harus dilakukan?
Apa iya kita tidak terjebak sebagai pelaku korupsi? Dengan membiarkan aturan yang menyalahi dan menyimpang dari kesadaran itu tetap dengan sadar kita lakukan dan tetap kita jadikan sebagai aturan

Bukankah budaya atau peradaban itu dibangun dari pernikahan atau perselingkuhan antara aturan dan kesadaran
Bukankah kehidupan itu bagai rantai yang tak berujung dan saling berkaitan
Dimana hukum sebab akibat adalah suatu kesatuan

Mari mengurai benang kusut dan mencari mata rantai yang hilang..

# catatan kecil inspirasi dari seorang kawan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Simfoni Hitam

Lisan ini..ah.. benar kata pepatah “Tajamnya pedang lebih tajam lagi lisan” ini terjadi padaku. Seperti malam-malam biasanya sebelum menutup mata menuju pulau kapuk aku dan kakaku selalu menyempatkan untuk berdiskusi. Berdiskusi mengenai segala hal dari masalah Politik, sosial, ekonomi hingga kehidupan kampus. Perbedaan mengenai suatu masalahpun sering tak terhindarkan, namun berbeda kali ini Kakakku merasa yang ku katakan tak pantas terlebih lagi menurutnya hal tersebut semaikn mencerminkan  aku adalah orang “”Egois”

Sisi lain Pasar Tradisional

Bismillah… Sisi lain dari Pasar Tradisional Jalan-jalan dikawasan itu becek. Bila turun hujan adonan tanah dengan air berubah menjadi tak ubahnya bubur kental berwarna coklat bercampur kerikil. Bila demikian, tanah-tanhanya tak mempunyai toleransi untuk digilas roda mobil, motor apa lagi diinjak kaki manusia. Tak heran manusia dan kendaraan yang melewati mencoba menghindar dari bubur kental coklat itu. Daerah yang dekil, terbelakang dan Bising!!

Jawaban atas Kesedihanku

Hari ini hari Jum’at, hari yang mendung semendung hati ini. Entah mengapa dari pagi ketika ku bangun dari ranjangku di Kebumen hingga aku samapai di Jogja rasa sedih yang menyelimuti hati ini tak kunjung pergi. Terlebih lagi pikiranku dibebani oleh serentetan tugas menanti di buku coklat, tempat kutuliskan kegiatanku selama seharian. Dari bangun tidur hingga malam menjelang. Seharin inipun kujalani dari mengerjakan tugas HTN (Hukum Tata Negara), mengerjakan pesenan Sertifikat hingga Rapat dan membahas isu kampus di rumah belajar Ekspresi. Walau hanya ada tiga agenda namun ini semua sangat membutuhkan waktu yang lama. Hingga harus pulang pada pukul 9.15 malam