Langsung ke konten utama

Pendakian Senja

Sebuah cerita di siluet senja keharmonisan
persahabatan adalah sebuah perjalanan
ibarat mendaki sebuah puncak pegunungan
walau ribuan jalan pulang kan memisahkan
ribuan pendakian kan menyatukan kerinduan

rindu yang mengisahkan ribuan bingkai kenangan
bersama ribuan jejak kaki yang berjalan beriringan
dimana beban menjadi ringan

dimana rintang tak menjadi penghalang
tuk menghantarkan pada sebuah tujuan
malam dimana kabut menghilang
lampu lampu perkotaan dihamparkan
mengerdilkan ego dan kesombongan

kemudian lelah pun telah rebah
di antara senandung senandung alam
rerumputan
ilalang
reranting dan dedaunan
semua berdendang
bersama perapian yang menari di dinginnya hembusan angin malam
semua terlentang
menghadap bentang langit malam
dimana bintang bintang menemani sang rembulan
berlarian
menari
hingga satu dua berjatuhan
lalu menghilang
dan semburat fajar pun datang
membentang bersama senyuman
senyum yang menghangatkan jiwa jiwa yang memendam kerinduan

 karena persahabatan ibarat sebuah pendakian
yang terbingkai dalam suka duka perjalanan
yang akan menjadi kerinduan
dan menghadirkan senyuman

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Simfoni Hitam

Lisan ini..ah.. benar kata pepatah “Tajamnya pedang lebih tajam lagi lisan” ini terjadi padaku. Seperti malam-malam biasanya sebelum menutup mata menuju pulau kapuk aku dan kakaku selalu menyempatkan untuk berdiskusi. Berdiskusi mengenai segala hal dari masalah Politik, sosial, ekonomi hingga kehidupan kampus. Perbedaan mengenai suatu masalahpun sering tak terhindarkan, namun berbeda kali ini Kakakku merasa yang ku katakan tak pantas terlebih lagi menurutnya hal tersebut semaikn mencerminkan  aku adalah orang “”Egois”

Sisi lain Pasar Tradisional

Bismillah… Sisi lain dari Pasar Tradisional Jalan-jalan dikawasan itu becek. Bila turun hujan adonan tanah dengan air berubah menjadi tak ubahnya bubur kental berwarna coklat bercampur kerikil. Bila demikian, tanah-tanhanya tak mempunyai toleransi untuk digilas roda mobil, motor apa lagi diinjak kaki manusia. Tak heran manusia dan kendaraan yang melewati mencoba menghindar dari bubur kental coklat itu. Daerah yang dekil, terbelakang dan Bising!!

Jawaban atas Kesedihanku

Hari ini hari Jum’at, hari yang mendung semendung hati ini. Entah mengapa dari pagi ketika ku bangun dari ranjangku di Kebumen hingga aku samapai di Jogja rasa sedih yang menyelimuti hati ini tak kunjung pergi. Terlebih lagi pikiranku dibebani oleh serentetan tugas menanti di buku coklat, tempat kutuliskan kegiatanku selama seharian. Dari bangun tidur hingga malam menjelang. Seharin inipun kujalani dari mengerjakan tugas HTN (Hukum Tata Negara), mengerjakan pesenan Sertifikat hingga Rapat dan membahas isu kampus di rumah belajar Ekspresi. Walau hanya ada tiga agenda namun ini semua sangat membutuhkan waktu yang lama. Hingga harus pulang pada pukul 9.15 malam