Langsung ke konten utama

Antara Aturan dan Kesadaran


Bercerminlah pada masa lalu
Politik adu domba hanya untuk menjarah kekayaan alam yang kaya raya
Dimana kita hanya menjadi budak-budaknya saja
   
Ataukah kita memang sudah tak punya lawan
Sehingga harus selalu berkawan dengan pertikaian
Dikarenakan ego dan kesombongan
   
Telah berdiri kerajaan-kerajaan baru di nusantara
Namanya partai A, B, C,….. banyak lainnya
     
Dan telah lahir berhala-berhala dari tangan putra-putri ibu pertiwi
Namanya isme-isme dan undang-undang sesuka hati
   
Lalu yang menjadi pertanyaannya?
Negara ini mau dibawa ke mana dan menjadi apa?
Kita ini mau ke mana dan menjadi apa?
Lantas Aku ini apa dan aku ini siapa?
   
Bukankah aturan dan kesadaran itu bagai dua sisi mata uang
Bukankah aturan dan kesadaran itu bagai telur dan ayam
Bukankah aturan dan kesadaran itu bagai ilmu dan amal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Simfoni Hitam

Lisan ini..ah.. benar kata pepatah “Tajamnya pedang lebih tajam lagi lisan” ini terjadi padaku. Seperti malam-malam biasanya sebelum menutup mata menuju pulau kapuk aku dan kakaku selalu menyempatkan untuk berdiskusi. Berdiskusi mengenai segala hal dari masalah Politik, sosial, ekonomi hingga kehidupan kampus. Perbedaan mengenai suatu masalahpun sering tak terhindarkan, namun berbeda kali ini Kakakku merasa yang ku katakan tak pantas terlebih lagi menurutnya hal tersebut semaikn mencerminkan  aku adalah orang “”Egois”

Sisi lain Pasar Tradisional

Bismillah… Sisi lain dari Pasar Tradisional Jalan-jalan dikawasan itu becek. Bila turun hujan adonan tanah dengan air berubah menjadi tak ubahnya bubur kental berwarna coklat bercampur kerikil. Bila demikian, tanah-tanhanya tak mempunyai toleransi untuk digilas roda mobil, motor apa lagi diinjak kaki manusia. Tak heran manusia dan kendaraan yang melewati mencoba menghindar dari bubur kental coklat itu. Daerah yang dekil, terbelakang dan Bising!!

Jawaban atas Kesedihanku

Hari ini hari Jum’at, hari yang mendung semendung hati ini. Entah mengapa dari pagi ketika ku bangun dari ranjangku di Kebumen hingga aku samapai di Jogja rasa sedih yang menyelimuti hati ini tak kunjung pergi. Terlebih lagi pikiranku dibebani oleh serentetan tugas menanti di buku coklat, tempat kutuliskan kegiatanku selama seharian. Dari bangun tidur hingga malam menjelang. Seharin inipun kujalani dari mengerjakan tugas HTN (Hukum Tata Negara), mengerjakan pesenan Sertifikat hingga Rapat dan membahas isu kampus di rumah belajar Ekspresi. Walau hanya ada tiga agenda namun ini semua sangat membutuhkan waktu yang lama. Hingga harus pulang pada pukul 9.15 malam