Langsung ke konten utama

Postingan

Demokrasi itu???

Hemmmm... hingga malam begini hatiku masih saja kalut. Entah apa yang ada diotakku kini, tapi yang jelas aku semakin kalut dengan apa yang ku ketahui. Hingga-hingga sahabatku berkata  "kayaknya lama-lama kamu gila deh ?" uajrnya saat kita ngobrol disalah satu sudut kampus. Jleb-jleb ... tertohok, itulah yang kurasakan saat itu. Benar juga, mungkin aku semakin gila. Semakin mengerti dan belajar semakin membuat pikiranku tak menentu, hatiku gelisah saban hari, jantungku berdebar tak menentu. mungkin benar kata ibuku " Menjadi petani didesa lebih nyaman mbak, dari pada kamu sekolah "  Esok, senin 18 Juni aku harus mengikuti UAS Hukum Islam dan Politik Lokal. "Wuahhh... materinya berat kiy" ujarku dalam hati. Walau aku orang islam tapi untuk mempelajari hukum islam sangatlah susah. Mungkin karena saya bodoh kali yak?? tapi yang jelas Islam sangatlah kompleks hampir segi-segi kehidupan terjamah dengan rapi dan indah. Untuk mata kuliah yang kedua i...

Kalut

Bismillah Rindu pena kecilku. Akhhir-akhir ini pena kecilku patah, dan enggan untuk diasah lagi. aku tak tahu pasti penyebabnya, yang jelas pikiranku sedang kacau. Sekacau benang kusut. Menyeleksi pikiran-pikiran liar dari luar yang sangat kuat menekan otakku. Jika otakku bisa berbicara mungkin ia akan berteriak “STOP!!  Overlimit ..!!!” tapi syukurnya ia tak bisa berbicara. jadi kagak nambah beban. Hemmm…, selain pikiran yang sedang kacau dengan pikiran-pikiran liar diluar sana, aku seringkali disibukkan dengan kenikmatan dunia. Buat masalah yang satu ini mungkin aku nggak boleh toleran, karena udah tahu dan bisa menuliskannya berarti ada konsekuensi logis gua nggak boleh ngulanginnya lagi. jadi inget dengan setatus FB..heleh-heleh, udah tahu salah masih aja pada ngulangin. (edisi TOMAT kali ye??) Berbicara pikiran liar banyak sekali pergolakkan yang ada dalam diriku. Mungkin ini adalah salah satu dampak perkembangan ilmu yang dominan dari barat yak? Sartre contohn...

Sobat aku bersamamu!

Jejak langkah itu cepat nian, cepat secepat tarikan nafasnya kian jauh, kian mendaki gunung yang tinggi itu hingga terengah-engah dan duduk di antara bongkahan batu yang berbentuk bangku itu. Dengan wajah yang lelah namun masih terbesit semangat dalam raut wajahnya itu. siapa dia?? dalam hatiku bertanya-tanya.begitu semangatnya orang itu tuk mendaki lereng gunung ini. lereng yang terjal. Mencoba ku susul langkah cepatnya itu namun lagi-lagi aku harus terseok-seok diantara batuan yang mengangah dan ilalang berduri. Terlebih lagi matahari kala itu sedang tak bersahabat. Namun bayangan orang itu terus melaju tanpa henti.sempat terbesit untuk menyudahi saja perjalanan ini. Namun rasa penasaran yang membuncah ini tak sanggup dibendung. Hingga tiba-tiba ditengah perjalanan nampak bayangan itu terhenti. "kenapa tuh orang ?" dalam hatiku bertanya-tanya." hemmm....mungkin capek, " akupun mencoba untuk menerka-nerka penyebabnya. Dengan gesit ku ambil kesempat...

Kejadian di Pagi hari

meneyentuh dedaunan yang masih basah terembunkan kesejukan meresap berpacu sealiran darah terhantarkan oleh ujung-ujung jari akal telah sedari tadi terbangun telah berputar kembali mengingat kenangan sehari yang terlampaui kenangan akal dalam sebuah pagi Bismillah.. langkahkan kaki pagi sedikit menapak menyusuri setapak ahh... terik mentari mengusik telinga dan separuh wajah dari kiri berpaling kutatap tantangan maha cahaya ahah.. dia seperti menyapa membelai wajah dengan kelembutan ultraviolet bulu-bulu di tubuh mulai berdiri tersapa cahaya terbangunlah kekuatan terbesar dalam semangat melanjutkan kenangan akal dalam sebuah pagi ya.. kenangan akal dalam sebuah pagi belum tersadar dari ketaktakjuban daun-daun dan embun-embun dan terbuai oleh mandian cahaya mentari malu pagi tiba-tiba tiba-tiba riuh rendah siul bernada lengking indah dengan irama mendayu mengejutkan takjubku akan pagi itulah nyanyian burung-burung pagi jelas ditelinga meskipun tak tertangkap oleh...

Terimakasih

Aku menikmati senja yang gelisah dengan lentera berlumur jelaga merebah pada hulu air yang keruh sisakan tanya kian bertalu Kunang-kunang enggan hinggap diranting jiwaku sekedar terangi pekat sembilu masygul rupa dan rasa yang sirna menelan mimpi-mimpi yang payah Senja ini tak berhias seperti mauku tak sepertimu selalu mewarnai hatiku senja ini kian jengah menemuiku tak sepertimu selalu membunuh kesepianku

Kaku

Namaku Yekti Orang yang sok puitis tapi tak bisa puisi Harga diri adalah harga mati Hingga harga diri bagiku lebih tinggi dari hartaku Dan kaku seperti kayu jadi maaf jika aku kaku Karena aku adalah aku Diantara kebanyakan orang aku adalah orang yang tak bisa mengekspresikan perasaanku terlebih lagi soal mengungkapkan rasa sedih dan sayang. sayang sama orang tua, saudara, dan semua yang ada dibumi. hemmmm... agak lebay sih, tapi itulah aku