Copyright © Yekti Ambarwati
Design by Dzignine
Senin, 08 September 2014

Satu Atap beda Dunia

Sudah 3 pekan, namun sosoknya masih membekas di benak ku. Simbah Kakung, sosok terdekat yang isnpiratif. Dan tulisan ini juga terinspirasi oleh sosoknya.

Sudah 2 pekan aku berada di Jakarta, dan selama itu pula mataku terbelalak lebar tentang kehidupan di Ibukota. Dan selama dua pekan pula aku berfikir tentang rumah, mamak, bapak, biyung dan adekku puput. Berfikir tentang kehidupan di Banjurpasar (sebuah desa yang terletaak dipesisir kebumen) hingga omongan mba yenika tentang pendidikan Indonesia. 


Setelah beberapa hari tinggal di jakarta saya membayangkan rumah-rumah di banjurpasar dan bisa jadi termasuk rumahku. Di sana saya sadar telah berjumpa dua dunia dalam satu atap. Mereka menyantap makanan dan minum dari sumber yang sama, namun anak dan orangtua seperti menjalani hidup yang berbeda.
Saat sang anak bersiap ke sekolah, ibunya memasak dengan kayu bakar dan merapihkan rumah, lalu berangkat ke sawah atau mengerjakan pekerjaan rumah lain seperti membuat emping atau membuat tambang dari sepet. Sementara ayahnya mengurus ternak atau unggas. Ketika sang gadis berangkat sekolah mengendarai motor, orangtuanya berjalan menuju kebun. Sepulang sekolah, ketika sang anak menikmati tayangan televisi, ibunya bersantai di teras membelah daun pisang untuk bungkusan penganan—setelah pulang dari kebun sambil membawa kayu bakar. Sementara sang ayah masih di luar rumah, mungkin di kebun atau memeriksa saluran air.

Bila sore tiba, ayah masih di kebun atau mengurusi ternak. Ibu mengepulkan asap dapur atau beristirahat diteras. Anak bangun dari istirahat siang, menonton televisi atau mengutak-atik telepon genggamnya. Sehabis makan malam, ketika sang ibu sudah berangkat tidur dan ayah ngobrol dengan kawan di beranda, tentang naik-turun harga komoditas, serangan hama, ancaman kekurangan air. Sang putri menghapalkan buku pelajaran, entah tentang tugas-tugas ASEAN atau dewan keamanan PBB. Setelah itu ia menonton sinetron, infotainment atau kompetisi bernyanyi—kadang bersama ibunya yang biasanya lebih cepat berangkat tidur.

Urbanisasi rupanya tak mesti berarti mengalirnya orang desa ke kota-kota, tetapi mengalirnya gagasan, informasi dan barang-barang dari kota ke desa. Orang di desa tidak harus ke kota untuk mengkonsumsi semuanya. Gaya hidup perdesaan dan perkotaan secara bersamaan mengada di satu desa, di satu rumah, bahkan di satu individu.

Individu ini biasanya anak yang pulang dari sekolah di kota, membawa gaya hidup kota, meski masih menjalankan sebagian praktik-praktik orang desa. Di sore hari sebagian muda-mudi ini terlihat sibuk dengan telepon genggam di tepi jalan sembari menikmati pemandangan sawah yang indah atau nongkrong didepan pasar yang sepi ketika sore, karena pasarnya hanya ada dipagi hari. Kadang dengan pasangan masing-masing, mereka bersantai di atas atau di dekat motor. Mereka pun kerap terlihat memacu motor mondar-mandir di jalan utama desa, yang membuat seorang tetua menyimpulkan: “mereka naik motor bolak-balik, tak ada yang dijemput tak ada yang diantar.” Bagi sang tetua, kendaraan lebih merupakan alat angkut ketimbang alat rekreasi atau alat pamer.

Tetapi anak-anak muda desa ini memang tengah mondar-mandir mengangkut ketakpastian. Orang tua mengirim mereka ke sekolah karena tidak melihat lagi masa depan menjanjikan di kebun—yang terus menerus dikorbankan oleh berderet kebijakan pemerintah yang lebih mengutamakan produktifitas, terutama untuk ekspor, ketimbang kesejahteraan petani. Mereka pun mengirim anak bersekolah dengan sedikit pengetahuan mengenai mutu pendidikan kita, dan sedikit tahu tentang apakah sekolah bisa menjamin pekerjaan yang layak untuk putra-putri mereka. Orang tua desa tak banyak tahu bahwa sebagian kampus menjual pendidikan sebagai komoditas dengan mutu kian menurun, atau mutu tinggi dengan harga selangit. Isi pelajaran umumnya juga pelan-pelan menjauhkan mereka dari kerja memuliakan tanah.

Para orangtua di desa cuma tahu, bertani dengan tanah yang kian susut tidak enak, karena harus berpayah-payah untuk mendapatkan hasil yang tak seberapa. Saya sering mendengar orangtua petani mengatakan betapa enaknya bekerja kantoran. Mereka tidak keliru. Profesi petani mirip sapi perahan. Bedanya petani cuma diperah namun tak diasupi ‘pakan’ yang cukup. Mereka masih dibiarkan hidup hanya agar bisa terus diperah. Mereka membayar terlalu mahal sembari menerima bayaran terlalu rendah dari orang kota untuk produk-produk mereka. Wajar bila angka orang miskin di desa nyaris dua kali lipat ketimbang di kota, 18 juta lebih versus 10 juta lebih, menurut data Badan Pusat Statistik 2013.
Akhirnya memang populasi keluarga petani berkurang 5 juta dalam sepuluh tahun, demikian menurut Sensus Pertanian 2013. Mungkin satu sebabnya adalah tidak semua anak muda yang pulang ke desa masih bisa atau rela menjadi petani. Tetapi, mereka yang tak pernah meninggalkan desa sekalipun sering sulit bertani, atau hanya menjadi buruh tani (bukan ‘petani’ menurut kategori Sensus Pertanian), karena kurangnya ladang garapan buat mereka. Pengangguran atau semi-pengangguran, kentara atau tidak, masih sekolah atau menganggur, merebak di desa. Boleh jadi, merekalah yang setiap sore lalu-lalang dengan motor di jalan desa. Orang-orang lalu menamai perilaku mereka sebagai ‘kenakalan remaja’.

Padahal yang terjadi adalah ‘perpanjangan masa kanak-kanak’, seperti yang ditemukan Ben White di Jawa. Sekolah, terutama hingga tingkat tinggi, membuat banyak anak muda sulit mengakses pekerjaan. Mereka terhambat melakukan kerja produktif yang menghasilkan uang. Ini membuat ketergantungan finansial anak muda terhadap anggota keluarga senior berlangsung lebih lama. Bersamaan dengan itu kebutuhan mereka juga menanjak dengan adopsi gaya hidup baru—baik yang tak bisa dihindari maupun bersifat konsumtif. Ketiadaan pekerjaan dan peningkatan kebutuhan kemudian menjadi sumber ketegangan di antara anggota keluarga senior dan anak muda.

Perbedaan gaya hidup itu sendiri juga mencipta ketegangan-ketegangan lain. Seperti ketika seorang ibu kesal melihat anak gadisnya tak mampu melakukan tugas sederhana seperti menebas daun pisang di kebun dekat rumah; atau kepala sekolah yang khawatir melihat anak didiknya sibuk memelototi telepon genggam—yang ia duga sedang menonton film porno.
Memang, ketegangan serupa juga terjadi di rumah-rumah orang kota. Tetapi di desa, orangtua kerap tak paham atau sulit mengakses dunia baru anak-anak mereka.

Rabu, 25 Desember 2013

Bamboku, Part II

Masih tentang Bamboku. 
Hal yangmenarik dari seorang Hidung merah adalah sikap ambisisusnya. 

Bamboku dilahirkan sebagai rakyat jelata. Saat muda ia berkeinginan untuk memiliki istri dari kalangan bangsawan untuk meningkatkan elektabilitasnya. Iapun berusaha menjadi pemuda yang cekatan dalam perdagangan agar bisa meminang seorang anak bangsawan. Tak lama kemudian ia pun berhasil mewujudkan keinginannya dan meminang anak seorang pejabat, walaupun pejabat rendahan. 

Seiring berjalanannya waktu ia-pun merancang bagaimana perdaganganya semakin besar dan menjadikanya sebagai saudagar terkaya. Ia melakukan berbagai langkah termasuk ikut dalam dunia politik. Ia menjadikan Genji Yoshitomo sebagai patron politiknya dengan membantu pemberontakan Yoshotimo terhadap pemerintahan perdana mentri Senzhei. Setelah Genji kalah oleh Heikei, Bamboku-pun berpindah arah ia berbalik memihak pada Heikei. Ia menjadi kawan politik yang baik, bahkan Bamboku menjadi salah satu penasehat Kiyomori, khususnya dalam percintaanya dengan Tokiwa. 

Berkat kedekatanya dengan Kiyomori, semakin memperpendek langkahnya untuk mewujudkan satu mimpinya yaitu menjadi pejabat. Di usia 50 tahun ia berambisi menjadi pejabat, walaupun ia dulu ia sering mencibir pejabat istana. Baginya kehidupan istana adalah kehidupan yang konyol dan memuakkan. 
Ia bahkan pernah mengatakan "Segala macam peraturan dan penghormatan total itu! tidak berharga karena aku hanya mengabdi pada diriku seorang!"

Bamboku ditunjuk sebagai "Pengawas Sungai Kamo" oleh Kiyomori. Jabatan itu merupakan jabatan golongan lima. Menjadi pejabat selain mepermudah sayap perdagannganya dan hanya sebagai pekerjaan "gensi!"

Siapapun bisa tergiur dengan jabatan termasuk si Bamboku

Bamboku, Si Licik

Bamboku, saudagar yang hidup pada masa klan heike berjaya. Merupakan sosok yang menarik untuk dikupas mengenai kepribadiannya. Si hidung merah adalah julukannya.Ia adalah saudagar yang cermelang dalam melihat trayeknya. Sebagai saudagar ia pastinya memikirkan bagaimana cara agar untung, maka dari itu ia memihak kedua klan yang sedang berseteru pada waktu itu yaitu Klan Heikie dan Klan Genji. Bamboku adalah orang yang membantu pemberontakan Genji Yoshitomo, karena Perdana Mentri Shenzi sangat keji. Akhirnya pemberontakkan Genji diakhiri dengan kekalahan dan pemenggalan kepala Yoshitomo dan ketiga anaknya. Genji kalah, Bamboku-pun berbalik arah menjadikan Heikei Kiyomori sebagai patron politiknya, dengan demikian bamboku dapat memperluas sayap dagangnya. Sikap inilah yang mengantarkan Bamboku pada kedudukan yang menarik yaitu menjadi Pengawas Sungai Kamo.  

Bagiku menjadi Heikie atau menjadi Genji salah satu darinya lebih terhormat dari pada menjadi Bamboku. Entahlah, menjadi tengah-tengah hanya untuk melindungi diri sendiri sangatlah picik. Sepicik Bamboku
Senin, 13 Mei 2013

Menepi, dan pulang

lambat laun mereka pergi dari pikiran,
menyisakan suatu pengertian,
bahwa sudah saatnya aku harus kembali ke hutan.

Kebenaran

kebenaran akan selalu hadir seiring putaran semesta
tak dapat dihentikan ataupun dibendung toleransi ..
bukanlah kata yang tepat untuk menerima sebuah kebenaran
dan saya percaya semesta selalu memberikan kebenaran saat kau memintanya

Namanya "Manusia"!!

Tersebutlah suatu kesalahan penulisan pada halaman pertama.
Penulisan terus berlanjut hingga halaman terakhir selesai.
Seorang pembaca yang menyimak proses penulisan dan membaca halaman pertama sangat marah dan meneruskan membaca hingga halaman terakhir untuk melihat adakah kesalahan-kesalahan yang lain.
Sembari pembaca tadi menyelesaikan bacaannya, penulis menyadari kesalahan penulisan pada halaman pertama adalah fatal lalu dia membubuhkan tipe-x untuk menutupi kesalahn tersebut dan menggantinya dengan penulisan yang benar.
Salahkah penulis tersebut?
Penulis meminta maaf pada pembaca yang menyadari kesalahan penulisannya  dan telah menggantinya. Pembaca tetap marah dan tidak mau tau, lalu siapa sekarang yang salah?

Jangan mencari kesalahan dari cerita diatas. Apalagi menelusur bagaimana penulis bisa melakukan kesalahan pada halaman pertama. Bukankah penulis adalah manusia, tempat dosa dan salah.
Penulis menyadari kesalahannya dan meminta maaf, belumkah cukup puas pembaca yang tadi marah-marah?
Lalu pembaca tersebut tidak menerima permintaan maaf dari penulis. Siapa dia? Bahkan TUHAN pun memaafkan dosa besar umatnya. Sesombong itukah pembaca tersebut?
Lalu siapakah yang salah?
Tidak... jangan kembali mencari siapa yang salah.
Masihkah ada pemikiran positif barang sedikit untuk kembali melihat cerita diatas?
Penulis telah melakukan kesalahan,menyadari dan membenarkan. Ditambah lagi meminta maaf. Suatu usaha perbaikan dan itulah nilainya.
Bagaimana dengan pembaca yang tersulut emosi dan marah-marah serta tidak menerima permintaan maaf? Dia juga tidak salah. Dia tersinggung karena mungkin kesalahan tersebut adalah hal besar atau menyangkut hal-hal kesukaannya. Tapi sulutan emosi tadi kemungkinan belum padam sehingga dia tidak bisa melihat cela, sekedar mengingat bahwa TUHAN pun memaafkan dosa besar umatnya.
Minggu, 03 Maret 2013

Namanya Juga Temen


Persaudaraan adalah mu’jizat,wadah yang saling berikatan.
Dengannya Allah persatukan hati-hati yg berserakan.
Saling bersaudara ,saling merendah lagi memahami.
Saling mencintai dan saling berlembut hati 
  -Sayyid Qutb-


Bissmillah...

Kulihat kalender yang terpampang persis ditembok samping tempat tidurku, ternyata sekarang sudah tanggal 3 Maret 2013. Bagi kebanyakan orang hari ini mungkin biasa-biasa saja tapi ada juga yang mengganggap hari ini sepesial sama halnya denganku dan dua sahabatku Si Tante Galak (Giva) dan Si Kucing (Khilma). 

Tadi Pagi kebetulan Saya bangun tahajud agak lebih awal dari biasanya tepat jam 01.00 WIB. Usai sholat ku berdo'a

Ya Allah, kutitipkan sebuah ’kado’ untuk saudariku yang milad.
Ini memang bukanlah bingkisan yang berisi barang mahal, istimewa, atau barang lainnya.
’kado’ yang tak ada harganya, bila diperhitungkan dengan nominal uang.
Tapi ’kado’ sederhana, berupa kalimat doa yang benar-benar tulus, mudah-mudahan ini menjadi sebuah kebaikan untuknya.

Rabbana, berilah segala kebaikan dan yang terbaik dalam hidupnya.Berikan kemudahan dalam setiap aktivitasnya, Karuniakan kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan.
Perkenankan apa yang ia cita-citakan.
Tetapkan kesabaran bila menghadapi ujian, kelapangan dalam kesempitan, kemudahan dalam kesulitan, dan jalan keluar untuk setiap permasalahan.
Lindungilah ia, jauhkan hal-hal buruk darinya.
Bimbinglah ia selalu, agar senantiasa berada di jalan yang lurus, dan istiqamahkan dalam kebenaran.

Ridhailah ia, berkahi setiap langkahnya, dan jauhkan dari maksiat kepadaMu.Ampuni dosa-dosanya, dan lindungi dari lupa bersyukur kepadaMu.Sehingga pada bertambahnya usia, semoga makin bertambah pula derajat ketakwaanya.Amin, Allahuma amin.

Ya Rabb, Tiada Tuhan Selain Engkau.Yang Maha Mengetahui hajat hambaNya,Engkaulah sebaik-baik pelindung, dan sebaik-baik penolong.Kabulkan doa ini.Dan berikan kebaikan yang sama bagiku yang mendoakannya.Amin.


Barakallahu fi umrikka wahai sahabat fillah, terimakasih mau menjadi sahabatku. Walaupun aku tak tahu ini cinta yang sepihak atau bertepuk sebelah tangan atau bertepuk tangan. Apapun itu Aku mencibtai kalian karena Allah. Insya Allah.

Aku juga sengaja tak sms kalian karena aku yakin berjubel sms yang akan masuk di Hp kalian hingga phone book tak mampu menampung lagi. Maaf :D(tapi tak dimaafkan juga tak apa) :D 

Rindu Punokawan


Membaca koran pagi di perpustakaan pusat menjadi pilihan tepat untuk menghemat kantong diakhir bulan ini. 

Membaca koran pagi ini rasanya membuat perut kaku tertawa, melihat dagelan para aktor politik. Dari Nazarudin yang bernyanyi tentang "Kampung Maling" yang membuat geram Marzuki Alie hingga kasus Dugaan Gratifikasi yang menyandung Pangeran Cikeas. Kian hari kian heboh saja Demokrasi politik Indonesia. Aku bukanlah orang yang fasih dalam menjelaskan tentang politik, walaupun dalam study yang sedang kutempuh sekarang sedikit banyak belajar politik dan hukum. Guru politikku selalu mengatakan "Tak ada hitam dan putih dalam politik dulu kawan sekarang bisa jadi lawan, itulah politik!". Ah benarkah? pertanyaan inilah yang sedang ku coba pecahkan. 

ah memikirkan ini menjadikanku semakin pusing saja seperti perkataan dosenku minggu lalu "Makin nyut-nyutan kepala kalo dibawa mikir politik Indonesia yang gaduh tapi ga produktif.." (@Halili Hasan) akhhirnya pilihan pragmatis menjadi pilihan sementara untuk mengendurkan otot-otot otak yang menegang karena hasil semsteran yang sedikit mengecewakan. Inilah Balada politik indonesia yang membutuhkan Punakawan. Yah Punakawan!

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, punakawan  diartikan sebagai “pelayan atau pengawal raja atau bangsawan pada zaman dahulu”, atau “abdi pengiring”. Barangkali, kalau diterjemahkan secara modern, mereka itu para loyalis, bahkan mungkin para abdi super loyalis. Kendatipun demikian, justru karena itulah mereka dikenal mampu memanfaatkan posisinya sebagai juru ingat para bangsawan alias bos yang diikutinya. Cara mereka mengingatkan, tampaknya tidak konfrontatif, dan yang khas adalah kejenakaannya. Mereka para dekonstruktor. Seperti makna teater Budaya yang berjudul "Semar Gugat" karya kawan-kawan FBS UNY akhir Tahun 2012 lalu. 

Kalau dalam pewayangan, kita dengan mudah mengidentifikasi kekuatan jahat atau Kurawa versus kekuatan baik atau Pandawa. Kalau Anda orang saleh, maka pilihan akan jatuh ke Pandawa. Tokoh protagonisnya adalah para Pandawa. Tetapi kan, kalau panggung politik kita itu jagat pewayangan!

Karena dengan kondisi yang sekarang ini susah pula kita cari mana yang benar-benar Pandawa dan mana musuhnya. Partai mana yang pandawa dan yang kurawa kan tidak jelas karena kekisruhan politik dan fitnah yang menyebar. Media mem packing dengan begitu rapinya. 

Di tengah-tengah situasi seperti ini, maka jelaslah dibutuhkan lebih banyak lagi para punakawan.  Tidaklah punakawan itu hanya ada di blok sebelah sini (katakan Semar), tetapi kan juga ada di blok sebelah sana (misalnya Togog). Karena Punokawan memiliki posisi yang unik. Mereka bisa di kubu manapun, tetapi kewajiban mereka justru bukan dalam soal merebut dan mempertahankan kekuasaan, tetapi dalam soal-soal memberi nasihat, baik diminta atau tidak, terlepas yang dinasihati mendengarkan atau malah tidur tapi iakan berupaya seoptimal mungkin mengkritik para bosnya melalui simbol dan tindakan alias bil hal

Rindu Punokawan karena kita rindu petikan ayat yang artinya “saling nasihat-menasihatilah kamu dalam kebenaran, dan kesabaran”. 

Wallahu'alam, Allah lah yang Maha Tahu jika ada kesalahan karena kecethekan otakku saja