Copyright © Yekti Ambarwati
Design by Dzignine
Jumat, 28 September 2012

Habis galau terbitlah terang


Bismillah

Semester Lima bagi kebanyakan orang, semester ini adalah semseter paling membosankan. Tetapi berbeda denganku Semster lima bagiku Istimewa dan sudah saatnya merapikan diri agar nampak pantas untuk menyandangnya. Jalanku memang berbeda dengan orang kebanyakan, karena diriku memang diriku. Awal masuk dan diterima menjadi mahasiswa UNY dengan jurusan PKnH menjadi tekanan batin tersendiri bagiku. Mengapa tidak? Aku yang awalnya adalah seorang siswa dengan jurusan IPA dan maling suka pelajaran KIMIA dengan cita-cita menjadi Insinyur dibidang Kimia harus masuk jurusan PKnH yang notabennya adalah anak sosial.
Menjadi mahasiswa dijurusan PKnH adalah penjara, yang mengekang kehidupanku dulu. Hal inilah yang menjadikanku mendapatkan nilai IP 3,09. Sesuatu yang setengah hati memang hasilnya tidak maksimal. Dan ini masih membekas hingga semester 2 yang hanya mampu memperoleh IP sebesar 3,34.
Awal semseter tiga, menjadikanku giat menuju perpus mencari Ilmu mengejar teman-temanku yang sudah melesat jauh dariku. Tempat terfaforit bagiku adalah lantai tiga sebelah barat, sembari memuutar lagu favoritku ku buka lembar demi lembar buku. Dari buku politik hingga Filsafat. Dan disanalah awal mula ku belajar tentang filsafat memang tidak banyak yang kupelajari karena memang bahasanya yang tinggi. Karena saking tingginya tidak cukup satukali baca namun aku harus mengulangnya hingga dua kali. Entah aku yang terlalu bodoh akupun tak tahu.
Membaca buku filsafat menjadikanku lebih mengutamakan hati dan rasio dalam bertindak begitupula dengan kuliah. Semseter tiga adalah puncak “kegalauan” akademik bagiku, karena bagiku kuliah itu tidak penting jika niat kita hanya belajar tanpa kita harus kuliah dan mendengarkan dosen ceramah cukup membaca buku diperpus kita juga bisa kok pinter dan dapet ilmunya. Dan inilah yang menyebabkanku lebih suka semedi dan membaca buku diperpus dari pada kuliah. Hingga kuliah sering bolos, apalagi kalo dosennya ngantukkin.
Namun setelahku beranjak menuju semster Lima, ketika kakak bilang “Hidup itu harus realistis walau terkadang pragmatis, karena itu memang realitasnya” anda pasti bingung, tapi bagiku itu pernyataan yang menohok sekali. Ibu juga sering bilang “Dek.. Ilmu iku tentu, tapi ben kowe dipandeng karo wong liya lan dirongokkake kudu nduweni status, nek ko ra nduwe status mbokan kowe pinterre kaya ngopo langka sing ngerongok ake, iki indonesia dudu “surga”,” Mulai saat itulah aku bangkit dan merapikan hati dan otak yang berantakkan karena kegalauan.
Ibarat kata habis galau terbitlah terang. hehehe ^^

Djogja, 28 September 2012
Yekti Ambarwati
Kamis, 20 September 2012

Kembali


Kadang hidup dihujani kepenatan.
Tak dapat berpikir ataupun mengerti,
hanya kegundahan yang datang menghampiri.
Melepaskannya memang terasa sulit,
tapi mencoba tak ada salahnya.
Karena bumi tak menyediakan, maka kembalilah kepada-Nya

Djogja, 20 September 2012
-YaLogic-

Qona'ah


Bismillah..

Udara hari ini panas sekali, hingga menusuk ubun-ubun. Begitupula dengan atomsfer orang-orang idealis (semoga demikian) disekitar hidupku sekarang. Menuliskannya dan mempublikasikannyapun bisa menambah suatu atmosfer baru (may be^^)  yang penting sampai disini jangan emosi duluan ya Gan ^^. Apalagi sampai makan laptop/computer/ Hp di depanmu.. wuah-wuah itumah terlalu.  

Alasan pertama mengapa harus menuliskannya, karena seperti catatanku sebelumnya. Ini dalah tulisan sampah jadi harus segera dibuang dari otak aye, yaitu melewati tulisan ini. Sampai disini mau diterusin baca, atau tidak itu terserah anda, karena toh.. dibaca atau tidak itu perkara selera dan aye kagak bisa memaksakan kehendak.

Mengapa dibilang atmosfer panas?? Wuah-wuahh lebay banget kayaknya yak? Seberanya kagak panas-panas amat sih, Cuma lagi pengin hiperbola aje biar terkesan waow gitu… seperti para orang-orang yang idealis dan yang mengaku idealis (orang yang idealis cuuung,… yang ngacung itu… memang idealis atau ngaku-ngaku idealis -_-“ ??). hahahahaha…. Sumonggoh koreksi diri sendiri, karena gua bukan “Allah” yang Maha menilai dan penghakim yang adil. Kalo saudara tanya aye idealis atau kagak, pasti cukup tak kasih jawaban “^_^” dan silahkan tafsirkan sendiri.

Seperti biasa malam ini ku buka FB. Jreng-jreng….. wuah, ternyata tak kunjung padam juga baranya. “Hahahaha…..baguslah..”. bukan nape-nape ye. Cuma seneng aja liat temen-temen pada rebut, kalo ribut pasti ngrasa ada masalah, jika merasa ada masalah berarti ada proses belajar ^_^. Perkara bener atau salah?? Aye yakin, setiap orang belum tentu baca buku yang sama. Setiap buku pasti membawa pengalaman dan doktrinasi tertentu. Makanya sesuatu benar atau salah itu perkara yang “subyektif” kecuali yang bersumber dari Allah SWT, aye yakin 100% itu Obyektif, gan…

Nah.. makin panas aje niyh. Sebenarnya yang kepanasan itu Cuma satu pihak dengan membuat boneka. Boneka?? Iya jadi dia yang bikin perkara dialah pemainnya tapi seolah-olah orang lain yang memainkannya. Nah.. yang dulu suka main boneka cunggg… [kalo yang ngacung cowok,.. itu yang perlu diwaspadai ^_^ hehehe..]


Ini nih,,, yang menarik, orang yang kagak tahu, jadi horror duluan. “apa-apaan sih ini.. orang mikirin kayak gini jadi horo deh, ah.. mendingan gua belajar terus cumlaude, dari pada mikirin kayak gini kagak ngaruh sama nilai IP gua,”  bisa jadi akan menimbulkan "Apatis itu lebih baik!!!" kayak gini. maaf gan.. ini Cuma analisis dangkalku kok, karena terinspirasi dari kisah pribadi,  jadi jangan sampai dimasukin ke hati apalagi jantung. Hehehe…

Kalo menurut aye, ini Cuma persoalan manajemen komunikasi saja, dalam segala aspek kehidupan yang namanya komunikasi pasti diperlukan agar suatu tak menjadi konflik yang bekepanjangan. Dan masalah ini juga bisa jadi persoalan komunikasi. Masing- masing kelompok tidak adanya komunikasi yang bagus, atau bisa jadi salah satu kelompok menolak adanya “tabayun” [mungkin takut… hehehe..peace]. Sebelum saling menghina dan menjustifikasi sebaiknya dikomunikasikan terlebih dahulu dimana yang salah. Itu tuh.. salah satu pendidikan politik. 

Dan bagi kawan-kawan yang belum tahu duduk permasalahanya jangan ikut triak-triak deh.. tukutnya nanti palah semakin panas aje. Lihatlah dengan kedua bola mata. Allah memberikan bola mata dua ada maksudnya. Obyeknya satu, mbok yo.. lihatnya pake dua bola mata kanan dan kiri. Bisa jadi masing-masing kubu punya kepentingan ^^.Karena kepentingan adalah bensinya motor [ hehehehe.. kagak nyambungyah???] cukup berfikir cerdas saja mana yang dikira nyaman dan lebih mendekatkan diri kepada Allah, mana yang tidak. Jika dikubu A lebih dirasa sholat dan ibadahnya joss ya silahkan ikut kubu A, tapi jika ternyata masuk kubu A menjadikannya tambah ogah-ogahan ibadanhya, ogah-ogahan belajarnya yo biarkan ia memilih kubu B yang lebih memfasilitasi. bukankah tugas kita hanya menawarkan tidak untuk memaksa??
Ini dah... yang lebih parah lagi jika konfliknya dengan cara menghujat. lebih lagi dengan bikin kebohongan publik kayak contohnya Aktor palsu hanya untuk mengecohkan lawan politiknya, mengeneralisir kesalahan seseorang agar kubu lawan politiknya koleps, dan masih banyak lagi. Katanya mau sportif?? Kok pada kayak gitu yah?? Kalo sportif jangan saling menghujat kayak gitu dong dan seolah-olah “kelompoknya paling benar” Hayooo… ngaku selama ini yang menghujat siapa?? (cungggggg…. Hahaha). Kecuali buat perkara yang sudah membelok dari aturan Agama, semisal Nabi Muhammad dihina, wuah aye siap nimpuki tuh orang (karena aye kagak punya kekuatan cukup pake Ilmu dan do'a aje deh.. Insya Allah).

Aye jadi inget kata saudara yang pernah tak ajak diskusi, katanya cukup “Qona’ah” sajalah. Jangan terlalu berlebihan, berekspektasi yang berlebihan terhadap sesuatu yang bukan berasal dari Allah itu tidak baik untuk kesehatan ?. kalo menurutmu Gimana gan?? itung-itung bagi ilmu siapa tahu aye yang salah prespektif.. soalnya buku bacaanya dan gurunya beda-beda. masing-masing bacaan membawa satu misi doktrinasi tertentu. Owh iya berbicara doktrinasi... itu tuh yang kadangkala menimbulkan konflik. ajarin aye tentang itu dong ^^

Qo’naah. Kayaknya satu kata yang menyelesaikan masalah, tapi itu pan bagi gua kagak tahu bagimu ^^.

Oh iya... jangan menghilangkan persaudaraan kita sesama manusia hanya persoalan perbedaan pandangan yah?? soalnya banyak yang sudah terjangkit penyakit itu.. ^^

labirin otak, 20 September 2012
-YaLogic- 

Keluarlah!

Keluarlah dari ketakutan dan kebencian
Keluarlah dari lingkaran kejumuddan
Lihatlah langit bintang yang bertaburan
disana ada keindahan

Djogja, 20 September 2012
-YaLogic-
Sabtu, 15 September 2012

Kotaku Pecah


gelap berselimut dingin
kotaku kembali anyir

antara detik waktu
semilir tangis riuh ombak
tugulufa pecah
pinus terbelah
putih pasir
dan ombak
tak lagi seirama

tangisnya nanti...

Djogja, 15 September 2012

Habis!!!


Habis kata
Habislah kita

Maka Ombak, bukanlah pantai
Maka deru, bukanlah kereta
Maka Hujan, tak hendak basah
Maka Pahit, tak pasti melidah

Tapi perih, tentulah luka
Meski ucap tak jadi kata

Maka habislah kita

Dan, aku...
Hanyalah aku
Dan, kata
Hanyalah batu
karena jiwa telah layu

Ukhuwah itu sederhana


Aku butuh luka yang lebih perih
dari ketika kau menabur garam pada sayatan yang menganga

aku butuh tangis yang lebih sendu
dari ketika kau meratapi sebuah kehilangan

Agar  bisa menerima ukhuwah yang paling sederhana
lebih dari sedekahnya seorang pengemis untuk pengemis lainnya

dan ukhuwah memang bukan harga
tapi  nilai tak terukur, sesederhana apapun adanya
Seperti tunas-tunas belia yang mengecup cahaya
Seolah matahari adalah kekasih yang dia rindukan
Hingga terus tumbuh menjadi pohon dewasa


 Djogja, 15 September 2012
teruntuk saudara yang menanyakan tentang ukhuwah

Tergantung Niat!!


"Jangan takut akan dikata sok suci atau dikata ri'a dalam menyampaikan sebuah kebaikan oleh lingkungan, jangan takut akan pujian maupun cacian karenanya. Jika itu adalah hal yang baik, maka sampaikanlah,"  kalimat ini disampaikan oleh Ustadz Syatori pada ceramahnya di KRPH yang lalu.

Berat juga memang bagi orang seperti saya, ketika dunia menyampaikan banyak negatifitas dan sayapun tak jarang mengikutinya. Namun, tinggal dilingkungan yang begini adanya. Bisa dibilang bebas dan jauh dari guru yang memang bisa mendidik cerdas tentang sebuah norma, etika dan moral, khususnya tentang kepercayaan yang saya anut.

Pernah, bahkan sering membaca kalimat sindiran di media sosial seperti twitter atau facebook bahkan di dunia yang bisa tatap muka secara langsung, padahal sama-sama menganut kepercayaan yang sama. Kalimat sindiran itu bermula ketika seseorang menulis status akan/telah shalat atau menyuruh shalat kepada yang lain, atau ketika sedang saum dia menulis mengenai saumnya di hari itu, lalu ditanggapi dengan sindiran yang intinya mencap seseorang yang menyampaikannya tergolong Ria, Soksuci ataupun Munafik. Ini memang terjadi dilingkungan saya.

Ada baiknya berbaik sangka pada sesama, apalagi ini kaitannya dengan seseorang yang kepercayaan seseorang itu adalah sama dengan kita. Apalagi tak ada yang tahu mengenai hati seorang manusia kecuali tuhannya. Begitu indahnya jika positifitas dan saling menasehati lalu menerima nasehat yang bahkan datang dari anak kecil sekalipun. Sekiranya dia adalah tukang pukul namun kadang menulis tentang kebaikan. Mungkin ada baiknya mengikuti kebaikan itu, dan tidak mengikuti sisi tukang pukulnya. Juga tak ada yang tahu tukang pukul itu akan menjadi orang yang gemar sujud diatas sajadah suatu hari nanti.

 Jika dan hanya jika ingin menjadi orang yang baik, ada baiknya pula jangan hinakan kebaikan orang lain dan proses untuk mencapainya. May be...!

Hatilah penyebabnya


warna jingga merona di ufuk senja menghiasi indahnya cakrawala.
Sang surya pun perlahan mulai tenggelam di balik awan kelam.
Dan sebentar gelap pun akan menyelimuti semesta.

Tampak diriku sedang berdiri terpaku sambil menatap langit yang mulai menggelap.
Desir sang bayu terasa lembut menerpa wajahku.
Yang sambil membisikkan rayuan ke dalam anganku.
wajah yang belakangan seringkali kusam karena ulahku

Perlahan ku gambar seketsanya
Dan kulihat satu guratan jelas penyebanya
Ohh.... 
Perih...!!!
Hati, ternyata hatilah penyebabnya

Djogja, 15 September 2012
Jagalah hati, karena hati adalah pengendali
jagalah hati, dengan mengingat Sang Pemilik hati

Berbeda


Sejenak ku tutup mata
mencari ketenangan di tengah keramaian
untuk sebuah peristiwa
yang mengorbankan perasaan

Bagiku, itu biasa karna "aku"
yang telah membiasakanku
terhadap kesalahanku
tapi bisaa juga karena "kau"

ah.. entahlah berbicara "aku" dan "kau"
selalu menguras emosiku
karena "kau" dan "aku" tak ingin bersatu

perbedaan bukanlah alasan
walau perbedaan sering memunculkan

-YaLogic-
Djogja, 15 September 2012
Minggu, 09 September 2012

Barat vs Jawa


Bismillah..

entah mengapa, tiba-tiba aliran darah dalam otak mengalir kencang, jantung berdegub kencang bak drum alunan musik rock. Setelah ku membuat tulisan yang sebenarnya mengejanya pun belum fasih, dengan “sarunya” ku membicarakannya. Tiba-tiba ada satu hal lagi yang mengganjal otakku ketika ku buka buku “Political Theory”. Buku yang harus ku lahap habis dalam waktu 2 minggu.
Seringkali ku tepuk jhidat, ketika melihat buku itu, bukan karena ku tak sanggup membacanya. Hanya saja mengkaji Al-Qur’an dan Hadist saja belum jua tamat. Tapi ilmu dunia seringkali menuntutku untuk menyelesaikannya.
 Kita tahu, ilmu-ilmu dunia berkembang dari sebuah kajian yang bernama “Filsafat” hingga filsafat dijuluki dengan sebutan bapaknya ilmu oleh sebagian filusuf. Terserah, bagiku semua ilmu dunia sudah terangkum dalam satu refrensi besar yaitu “Al-Qur’an”. Namun, entah mengapa kita termasuk saya seringkali lebih bangga ketika kita mengambil dalil-dalil orang Barat dibandingkan dalil dalam Al-Qur’an.
Tapi maaf saudara, tulisan kali ini tidak akan membahas tentang Filsafat barat dan Al-Qur’an karena saya takut berdialektika tentang hal itu. Takut kebelinger tepatnya. Saya hanya membandingkan Orang barat dengan tanah kelahiranku “Jawa”. Ada yang menarik perhatianku ketika membandingkan keduanya Berbeda dengan filsafat Barat, yang berakar dari filsafat Yunani (Socrates dkk.), jika dalam filsafat barat kita akan diajak untuk mencari unus terkecil dalam suatu subyek, maka dalam filsafat jawa berbeda. Karena bagi orang jawa semua adalah perkara pekerjaan.
Bukan tugas manusia memikirkannya. Jika plato memikirkan tentang bagaimana timbulnya suatu negara dan politik maka orang jawa tidak perlu memikirkan bagaimana menjadi sebuah negara dan bagaimana ada politik namun cukup bagaimana menjadi cukup bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik, agara negaranya aman, tentran dan bahagia.
Filsafat jawa membicarakan hal-hal yang lebih sederhana dan mendalam. Orang Jawa tidak mau pusing-pusing memikirkan apakah bumi berbentuk bulat ataukah lonjong, tapi yang penting adalah bagaimana manusia menjaga keselarasan (harmoni) dengan alam semesta, dan terlebih lagi dengan sesamanya: ‘uripku aja nganti duwe mungsuh’ inilah yang senantiasa ditekankankan oleh Simbah kakungku saat sowan ketempatnya.
 Filsafat Jawa mengajarkan kehidupan yang sederhana, dan menginsyafi bahwa harta benda tidaklah memberikan kebahagiaan yang hakiki: ‘sugih durung karuan seneng, ora duwe durung karuan susah’. Meski demikian manusia harus bekerja: ‘urip kudu nyambut gawe’, dan mengetahui kedudukannya di dalam tatanan masyarakat.  Manusia Jawa percaya bahwa setiap orang memiliki tempatnya sendiri-sendiri: ‘pipi padha pipi, bokong padha bokong’ seperti celotehan si mbah phitruk salah satu tokoh dalam punokawan. Kebijaksanaan kuno ini bahkan selaras dengan ilmu manajemen modern yang mengajarkan bahwa setiap individu harus memilih profesi yang cocok dengan karakternya. Setelah menemukan bidang profesi yang cocok, hendaknya kita fokus pada bidang tersebut, sebab jika kita tidak fokus akhirnya tak satupun pekerjaan yang terselesaikan: ‘Urip iku pindha wong njajan. Kabeh ora bisa dipangan. Miliha sing bisa kepangan.’
-labirin otak, 9 September 2012-
karena hanya sebuah dalektika, bisa saja keliru karena saya bukanlah Tuhan yang Maha Benar ^^
Jika ada yang salah mohon diluruskan :D

Anda Tuhankah???


Menuliskan ide ke dalam tulisan ini susah sekali, otak serasa mandeg dan jemari serasa kaku. Tepat satu bulan sudah, jemari-jemariku tak ku latih untuk menulis lagi. Namun, itu bukanlah alasan, atau mungkin karena sudah lama otak ini tidak bekerja, maklum masih dalam kondisi liburan pasca lebaran. 
Hemm,, akhir-akhir ini ada yang menarik, ini tentang Tuhan. waduh.. sepertinya horor juga yah??. Tuhan?? kayak udah fasih saja, mengeja namanya saja masih kelu lidah ini. palah mau ngoceh tentang-Nya. 
(Maafkan hambamu ini ya Allah, telah lancang semoga saja ada yang menegur jika pemikiran saya salah dengan petunjuk-Mu)

Tuhan-tuhan di tempatku tinggal seketika terjeruji dan lenyap, seperti yang dikatakan Nietzsche.  Itu kenyataannya, bukan “Tuhan” yang sesungguhnya. Bukankah kita ini sekadar hamba Tuhan yang kalaupun punya kedudukan tinggi, tak kurang dan tak lebih hanyalah sebagai khalifah-Nya di muka bumi ini? Jadi, tak layaklah kita melenyapkan Tuhan bahkan menuhan-nuhankan diri. Namun, kenyataannya?

Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang tiba-tiba men-Tuhan-kan diri dan melenyapkan Tuhan dari perilaku keseharian. Kecuali mereka yang berpegang teguh pada Agama, karena Agama pastilah bermuara pada "Tuhan" (Allah). Seperti sungai, walau berbeda-beda madzhabnya pastilah bermuara pada satu lautan yaitu Allah.  Jangan sampai masing-masing mengklaim diri yang paling benar dan dengan demikian berarti telah menuhankan diri.

Jangan sampai masing-masing mengklaim diri yang paling benar dan dengan demikian berarti telah menuhankan diri. Demikian pula kiai, ustad, dan kita masing-masing harus mengalir dan menyatu kembali dengan Tuhan sehingga sebenarnya apa pun perbedaannya pada dasarnya satu jua. Perbedaan akan selalu menjadi benih konflik jika ia tetap berhenti pada perbedaan itu sendiri tanpa mau menyatu kepada Tuhan.

Akan tetapi, menyatu bukan berarti lalu kita berhak menyatakan diri menjadi Tuhan lantaran menjadi tuhan saja pun tak boleh. Yang boleh dilakukan adalah mebenahi diri agar roh yang diberikan Allah dapat mencerminkan dimensi ketuhanan. Memang, semua gerak mereka harus menuhan atau menuju Tuhan dan melebur dalam identitas Tuhan (atau mungkin, secara kebahasaan, tepatnya identitas ke-Tuhan-an), tetapi jelas mereka tetap tidak dapat berubah menjadi Tuhan. Kalaupun misalnya dalam paham “wihdatul wujud” ada yang sampai berpengakuan “Annal-Haq” (Akulah Tuhan), sebagaimana yang (mungkin) terjadi pada Syech Siti Jenar, hal itu tetaplah mesti dipahami sebagai “keterbatasan pengakuan kebahasaan” atas “identitas ke-Tuhan-an” dirinya sebagai makhluk Tuhan.

Yang pasti, apa pun ungkapan yang terlontar dari proses menuhan atau me(n)-Tuhan itu, yang terpenting bukanlah ungkapannya, tetapi proses dan hasil penyatuannya yang kedua-duanya itu, gampangnya, kita “serahkan” saja kepada Tuhan lantaran semua ini menyangkut dimensi rohani (roh). Sebab, Tuhan sendirilah yang bilang bahwa perihal roh itu adalah urusan-Nya. Maka, kita tidak boleh hanya sibuk bertikai mengenai bahasa ungkap kerohanian atau ke-Tuhan-an, tetapi mestilah segera menyatu dalam hakikat kerohanian/ke-Tuhan-an itu.
Dalam bahasa yang lebih mudah, proses menuju/menyatu dengan Tuhan ini adalah apabila kita beribadah, baik mahdah maupun muamalah, hendaknya itu diniatkan hanya demi Tuhan alias mesti ikhlas karena Allah karena hanya itulah yang akan mengantarkan kita kepada-Nya

-labirin otak, 9 September 2012-
just dialektikaku, jika ada yang keliru mohon dikoreksi karena pengetahuanku masih terbatas ^^