Copyright © Yekti Ambarwati
Design by Dzignine
Sabtu, 16 Juni 2012

Demokrasi itu???


Hemmmm... hingga malam begini hatiku masih saja kalut. Entah apa yang ada diotakku kini, tapi yang jelas aku semakin kalut dengan apa yang ku ketahui. Hingga-hingga sahabatku berkata "kayaknya lama-lama kamu gila deh?" uajrnya saat kita ngobrol disalah satu sudut kampus.

Jleb-jleb... tertohok, itulah yang kurasakan saat itu. Benar juga, mungkin aku semakin gila. Semakin mengerti dan belajar semakin membuat pikiranku tak menentu, hatiku gelisah saban hari, jantungku berdebar tak menentu. mungkin benar kata ibuku "Menjadi petani didesa lebih nyaman mbak, dari pada kamu sekolah

Esok, senin 18 Juni aku harus mengikuti UAS Hukum Islam dan Politik Lokal. "Wuahhh... materinya berat kiy" ujarku dalam hati. Walau aku orang islam tapi untuk mempelajari hukum islam sangatlah susah. Mungkin karena saya bodoh kali yak?? tapi yang jelas Islam sangatlah kompleks hampir segi-segi kehidupan terjamah dengan rapi dan indah.

Untuk mata kuliah yang kedua ini, Politik Lokal. "Haluffttt... muak gua sama yang ginian" hatiku pun memberontak
Bagiku belajar politik, bisa dibilang baru. Dari awal memang saya tidak tertarik untuk mempelajari politik, karena bagiku mempelajari kimia dengan tabel periodiknya lebih menarik. Lebih lagi ngutek-ngutek komputer waduhhh,, demen banget t uh. Sampai-sampai setelah aku lulus SMA pengin banget masuk STT Telkom, tapi apalah daya uang tak mampu. Masuk kesana biyaya semesterannya busyetMasya Allah sekali. Hingga menghalangiku masuk. Maklum aku adalah anak petani, yang berasal dari pesisir selatan.

Kembali ke masalah Politik, etelah saya masuk di UNY dengan jurusan Pendidikan Kewarganegaraan & Hukum (PKnH) baru saya mengenal yang namanya politik, demokrasi, hukum, konstitusi, dan saudara-saudaranya. Hemmmm..sampai-sampai muak, bukan apa-apa karena semakin ku pelajari teorinya semakin ku muak dengan negara dan masyarakat. kali ini saya akan mengambil contoh yang sederhana mengenai "Demokrasi"

 Demokrasi, siapa yang tak kenal dengan yang satu ini?? (dijamin hidupnya paling nyaman deh). Demokrasi jika kita menggunakan arti yang bias digunakan atau dikutip banyak orang yaitu "dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat". Dari kata-kata tersebut kita bisa lihat bahawasanya sistem ini menginginkan adanya kehadiran panggung politik untuk rakyat. Dengan berjalannya waktu, konsep demokrasipun mengalami adaptasi karena konsepnya yang luas sehingga sangat utopis,dan demokrasi beradaptasi menjadi "Demokrasi Perwakilan". Hal ini nampak terlihat ketika dipemerintahan terdapat senat, lembaga legeslatif dan sedarah. Dari sini kemudian muncul, suatu yang hedonis sekali ketika "wakil" yang muncul adalah mereka yang menang dan memperoleh suara terbanyak.

(hahahahahaha... jadi ingat dengan perkataan mba hanif "tenang saja Wakil rakyat memang telah mewakili rakyat dengan baik dan benar kok, Mewakili rakyat yang pengin punya mobil mewah, mewakili rakyat yang pengin punya rumah mewah, mewakili rakyat yang pengin jalan-jalan keluar negeri, dan mewakili-mewakili yang lain)

Jika demikian adanya saya pikir demokrasi tidak cocok diterapkan di Indonesia. Alasan pertama, adalah ketika seseorang menang atas nama "suara terbanyak" maka disini memunculkan suatu kesan satu kuantitas yang memiliki ideologi yang sama hingga mengesampingkan kualitas. Mungkin demokrasi akan mecerdaskan rakyat, karena masing-masing akan mengkritik dan memiih wakil-wakilnya. Namun, masalah yang kedua adalah "suara terbanyak" memberikan konsekuensi jika akan menang maka mereka harus menguasai sumber-sumber ekonomi, sosial bahkan politik dengan berbagai macam cara termasuk didalamnya money politic.

Maka tak heran, Benjamin Franklin, seseorang yang pernah menjabat sebagai presiden di negeri yang mengagung-agungkan demokrasi, Amerika Serikat, sekali waktu pernah beranalogi bahwa “demokrasi adalah dua serigala dan satu domba. Mereka bertiga voting untuk menentukan apa yang akan mereka santap untuk makan siang”. 

Amerika yang mengaggung-agungkan demokrasi ini, juga ternyata berselingkuh dengan ideologinya sendiri. Kita bisa ambil contoh, Amerika adalah negara yang membantu Israel untuk menyerang Palestina, belum maslah Yaman, Lebanon yang tidak jauh dengan campur tangan amerika. karena Amerika ingin mendirikan demokrasi. Sebenarnya demokrasi semacam apa yang diinginkan Amerika?? katanya demokrasi tapi tega menyuruh tentara-tentaranya membunuh wanita-wanita dan anak-anak??. Kalau mereka benar-benar demokratis mestinya proses demokrasi itu juga meliputi kebebasan bagi negara lain untuk “memusyawarahkan” dan “memilih” sistem pemerintahan yang terbaik menurut pandangan mereka. Pendeknya, demokrasi itu dipaksakan kepada pihak lain.

Demokrasi bertujuan untuk menjembatani semua pendapat, dan pada mulanya, seperti kasus historis negara-kota Athena pada abad ke 4 atau 5. Mufakat bisa dicapai jika orang-orang berpikir apa solusi terbaik untuk suatu masalah, bukan “apa yang akan saya dapatkan jika solusinya seperti ini”. Tanpa kepentingan pribadi macam tadi, setidaknya makna demokrasi tak akan terdistorsi meski dengan pungutan suara sekalipun.Kembali ke Indonesia, solusi benama "nasionalisme"  pun ditawarkan untuk mencegah berbagai macam kepentingan pribadi, golongan, atau primordial tersebut. Semua kepentingan kemudian diatas namakan untuk bangsa dan negara. Namun benarkah berapa orang kini yang memiliki nilai-nilai macam itu? Sebab nasionalisme Indonesia sendiri, masih dipahami sebagai reaksi berupa perlawanan terhadap kolonialisme. Padahal, kolonialisme sendiri sudah hilang dari bumi Nusantara, sementara masalah yang dihadapi sudah sedemikian kompleksnya sehingga egoisme etnik dan kedaerahan adalah masalah yang dianggap “wajar” sebagai akibat dari kebijakan otonomi daerah. 

Saya tak tahu apa solusi berupa nasionalisme ini dapat membantu. Namun pada akhirnya, tak ada sebuah sistem yang benar-benar sempurna. Komunisme misalnya, yang menurut Richard M. Ketchum akan selalu dekat dengan pemerintahan totalitarian, sehingga mengedepankan kepentingan seorang diktator ketimbang rakyatnya. Dan kini demokrasi, yang banyaknya kepentingan di sana mengaburkan satu tujuan yang menyeluruh dan padu. 


-Labirin Otak- 
17 Juni 2012 

0 komentar:

Posting Komentar