Copyright © Yekti Ambarwati
Design by Dzignine
Kamis, 24 November 2011

Internet dan Gerakan Sosial

Internet (interconnected-networking) ialah sistem global dari seluruh jaringan komputer yang saling terhubung menggunakan standar Internet Protocol Suite (TCP/IP) untuk melayani pengguna di seluruh dunia, sehingga pengguna dapat mengakses informasi di berbagai belahan dunia. Dengan kemudahan akses informasi dan komunikasi yang efektif dan efisien, internet menjadi perantara terbentuknya struktur masyarakat emansipatif dan bebas dari dominasi. Karena Internet tidak terbatasi waktu, tempat, ekonomi, tingkat pendidikan bahkan umur.  Jika  Habermas mengangkat prototype obrolan di coffe house (Inggris) abad 18, salon (Prancis) dan tichgesllschaften (Jerman) sebagai ruang publik (Gun Gun Haryanto, Seputar Indonesia, Sabtu 7 November 2009), maka sekarang ini internet dapat kita katakan sebagai ruang publik populer abad 21.
Paradigma  ruang publik yang awalnya face to face kini bergeser karena kehadiran Internet. Layanan internet seprti: electronic cafes, bulettin board, malist, blog, forum interaktif web personal, web jejaring sosial telah menjelma menjadi harapan baru ketersediaan ruang publik yang menyediakan situasi komunikasi tanpa dominasi. Sebagai sebuah konstruksi ruang publik popular, internet memiliki kekuatan untuk melakukan framing dan mobilisasi wacana perubahan sosial, dimana hal ini mampu menjaring penggunanya yang tersebar di seantero negara untuk memiliki perasaan senasib dan sepenanggungan. Dalam konteks kondisi sosial – politik di Indonesia yang sedemikian rupa, dimana tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah semakin hari semakin menurun, internet sangat berpeluang untuk membuat sebuah framing dan mobilisasi.
Farming  merupakan salah satu Gerakan sosial dimana proses perubahan sosial menggunakan proses penyamaan pemikiran. Mobilisasi merupakan sejumlah cara kelompok gerakan sosial melebur dalam aksi kolektif, dimana konsentrasi gerakan ini berada organisasi informal. Kartodirdjo dalam Burke(2003:135) menyatakan bahwa gerakan sosial merupakan “sebagai aktivitas kolektif pergerakan sosial bertujuan hendak mewujudkan atau sebaliknya, menolak suatu perubahan dari susunan masyarakat, sering kali dengan jalan yang radikal dan revolusioner”. Jadi, pada dasarnya ada dua tipe gerakan sosial. Pertama, berupa gerakan yang pada dasarnya untuk memulai suatu proses perubahan. Kedua, gerakan yang merupakan reaksi atas perubahan yang sedang terjadi, dan lebih lazim disebut sebagai gerakan sosial bertipe “reaktif”, terutama gerakan rakyat yang memprotes perubahan ekonomi atau sosial yang yang tidak berpihak. Dengan demikian, yang dimaksud to promote change dalam suatu gerakan sosial, bisa berarti untuk mewujudkan perubahan secara proaktif, atau berarti pula untuk mereaksi perubahan yang terjadi. Mesir dan Libiya merupakan negara yang pada tengah tahun 2011 terjadi aksi kolektif masyarakat, yang menuntut perubahan sosial-politik dan ekonomi. Dan aksi ini terjadi karena proses framing dan mobilisasi masyarakt melalui jejaring sosial.
Di Indonesia ada beberapa kasus yang dapat membuktikan,ambil saja gerakan Coin A Chance, yang terjadi pada kasus Prita, Gerakan “cicak vs Buaya” yang berkembang di Facebook, sampai Situs wikileaks yang membocorkan dokumen rahasia tentara Amerika Serikat dan berbagai negara termasuk Indonesia.Wikileaks melakukan gerakan sosial tentang transparansi informasi sebagai hak semua orang. Ini adalah Turning point yang menandai internet, khususnya sosial media, sangat berpengaruh bahkan mampu mengemudikan isu di dunia.
Alasan internet dapat digunakan sebagi gerakan sosial bahkan sebagai alat kelompok penekan, pertama, munculnya era kesadaran kelompok publik attentive yang kian adaptif dengan kemajuan ICT terutama terkait dengan dunia virtual. Menurut data statistik yang dilansir oleh www.CheckFacebook.com , pengguna facebook di Indonesia masuk 10 besar jumlah pengguna facebook di dunia dan terbesar ke-2 di Asia (Editorial Vivanews: Sabtu, 16 Juli2011), dan kebanyakan adalah well education. Indonesia berada di peringkat ketujuh, mengalahkan Australia, Spanyol, dan Kolombia. Peringkat pertama dipegang Amerika Serikat (67.485.000), kemudian disusul Inggris ( 17.926.840), Kanada ( 11.515.660), Turki (11.417.400), Perancis (10.588.720), Italia (10.179.480), Indonesia (5.949.740) Australia (5.890.760), Spanyol (5.671.580) dan Kolumbia (5.206. 020). Sedangkan pengguna Tweeter di Indoensia memperoleh peringkat pertama di Asia. (Kabar Pekan, TV One:Sabtu, 16 Juli 2011)
Kedua, adanya kesadaraan untuk berinteraksi, bertukar isu bahkan visi retoris yang dapat terbentuknya kesadaraan untuk membagi. Ketiga, internet merupakan salah satu media yang bebas dari dominasi, efisien dan efektif. Keempat, tingginya kesadaran masyarakat untuk melakukan fungsinya sebagai kontrol pemerintah.
*******
   Yang pasti Internet telah menjadi salah satu alat aktivisme; Internet dapat mempermudah seseorang menjadi aktivis; Internet dapat dipakai untuk mengelola dukungan untuk sebuah aktivisme. Ini semua dapat berujung pada partisipasi publik yang semakin besar yang akan memnjadi bom waktu yang siap meledak dan memperkuat demokrasi di Indonesia dengan memberikan kekuatan tambahan bagi rakyat, terutama saat penguasa tidak mau mendengar rakyat.  Namun walaupun  isu kali ini pemerintah akan mengontrol internet, pikiran manusia tetap tidak dapat dibekukan. Power to the people! 

_dI Ruang dialektikaku dengan keterbatasan pengetahuan dan Kegaluan-
    Djogja, 24 November 2011 : 04.00

0 komentar:

Posting Komentar