Langsung ke konten utama

Postingan

Menepi, dan pulang

lambat laun mereka pergi dari pikiran, menyisakan suatu pengertian, bahwa sudah saatnya aku harus kembali ke hutan.

Kebenaran

kebenaran akan selalu hadir seiring putaran semesta tak dapat dihentikan ataupun dibendung toleransi .. bukanlah kata yang tepat untuk menerima sebuah kebenaran dan saya percaya semesta selalu memberikan kebenaran saat kau memintanya

Namanya "Manusia"!!

Tersebutlah suatu kesalahan penulisan pada halaman pertama. Penulisan terus berlanjut hingga halaman terakhir selesai. Seorang pembaca yang menyimak proses penulisan dan membaca halaman pertama sangat marah dan meneruskan membaca hingga halaman terakhir untuk melihat adakah kesalahan-kesalahan yang lain. Sembari pembaca tadi menyelesaikan bacaannya, penulis menyadari kesalahan penulisan pada halaman pertama adalah fatal lalu dia membubuhkan tipe-x untuk menutupi kesalahn tersebut dan menggantinya dengan penulisan yang benar. Salahkah penulis tersebut? Penulis meminta maaf pada pembaca yang menyadari kesalahan penulisannya  dan telah menggantinya. Pembaca tetap marah dan tidak mau tau, lalu siapa sekarang yang salah? Jangan mencari kesalahan dari cerita diatas. Apalagi menelusur bagaimana penulis bisa melakukan kesalahan pada halaman pertama. Bukankah penulis adalah manusia, tempat dosa dan salah. Penulis menyadari kesalahannya dan meminta maaf, belumkah cukup pua...

Rindu Punokawan

Membaca koran pagi di perpustakaan pusat menjadi pilihan tepat untuk menghemat kantong diakhir bulan ini.  Membaca koran pagi ini rasanya membuat perut kaku tertawa, melihat dagelan para aktor politik. Dari Nazarudin yang bernyanyi tentang "Kampung Maling" yang membuat geram Marzuki Alie hingga kasus Dugaan Gratifikasi yang menyandung Pangeran Cikeas. Kian hari kian heboh saja Demokrasi politik Indonesia. Aku bukanlah orang yang fasih dalam menjelaskan tentang politik, walaupun dalam study yang sedang kutempuh sekarang sedikit banyak belajar politik dan hukum. Guru politikku selalu mengatakan "Tak ada hitam dan putih dalam politik dulu kawan sekarang bisa jadi lawan, itulah politik!". Ah benarkah? pertanyaan inilah yang sedang ku coba pecahkan.  ah memikirkan ini menjadikanku semakin pusing saja seperti perkataan dosenku minggu lalu "Makin nyut-nyutan kepala kalo dibawa mikir politik Indonesia yang gaduh tapi ga produktif.." (@Halili Hasan) akhhi...

Sahabat :D

Lewat sebuah perjalanan Kita dipertemukan Satu demi satu kebersamaan itu Kian mendekatkan hati kita Saling mengenal dan menempati hati Saat kasih ada diantara kita Kala senang…kala sedih… Akan ada yang mengulurkan tangannya Akan ada yang menyediakan pundaknya Akan ada yang menyiapkan telinganya Dan seutas senyum untuk sahabat YaLogic, 20 Januari 2013

Pledoi sebagai Mahasiswa!

Sudah lama aku tidak menghadap monitor, menyuntuki sebuah tulisan; entah itu karya fiksi, essai, review , ataupun sekadar catatan harian. Disaat-saat seperti ini aku mendapati diriku seperti seorang pelaut yang enggan singgah. Seorang pelaut yang terus menantang ombak dan malam, tak hendak menepi, melego jangkar, untuk kemudian melepas lelah pada surau di suatu pesisir sebuah kota yang entah. Aku kira, perlu juga untuk mencuci muka, melarutkan bau asin dan bau malam. Laut tak berbatas sejenak aku tinggalkan dibelakang, bersama bau asin dan malam. Gelap dan tak terduga. *** Hari ini hari selasa, 13 Desember 2012. Ini hari pertamaku kembali ke kampus, kembali pada lembaran teks-teks yang dimuntahkan melalui mulut orang-orang tua yang berdiri di depan laptop dan papan tulis. Ini hari pertamaku setelah berlibur kembali pada rutinitas yang sangat terukur dan pasti. Dua hal yang paling aku benci dalam hidup ini, sekaligus membutuhkannya. Seorang teman menghampiriku, men...

Lekas Sembuh

Masih jelas dalam ingatan. Tentang bagaimana digdaya kau melangkah. Menapaktilasi setiap sudut kehidupan. Juga tentang seberapa cerah wajahmu ketika ceria. Bersimpul senyum penuh pesona. Merupa tarian seribu malaikat yang memikat. Atau tentang semangat juangmu menerjang terjal jalananan.  Kesabaran.  Keteguhan.  Ketegaran.  Kekokohan jiwa tuk bertahan dan berdiri tegak.  Segalamu. Tergambar jelas dalam benak. Tak mungkin terlupa. Karena mengenalmu adalah yang teristimewa.  Sampai suatu ketika, kuasa langit menginginkanmu untuk jatuh. Sesaat setelah penyakit menggerogoti sehat dan kuatmu secara perlahan. Punggung yang dulu tegap, kini meruntuh pasrah. Memaksamu untuk lemah. Derap kaki yang dulu tegak, perlahan goyah. Hampir patah. Daya tak lagi seperti biasanya. Luntur, memudar, tak bersisa.  Tapi, itu hanya katamu.  Bagiku, asamu masih terang menyala. Menjelma pelita malam yang sinari kelam. Berwarna jingga keemasan yang pukau menenteramkan. ...