Copyright © Yekti Ambarwati
Design by Dzignine
Rabu, 25 Desember 2013

Bamboku, Part II

Masih tentang Bamboku. 
Hal yangmenarik dari seorang Hidung merah adalah sikap ambisisusnya. 

Bamboku dilahirkan sebagai rakyat jelata. Saat muda ia berkeinginan untuk memiliki istri dari kalangan bangsawan untuk meningkatkan elektabilitasnya. Iapun berusaha menjadi pemuda yang cekatan dalam perdagangan agar bisa meminang seorang anak bangsawan. Tak lama kemudian ia pun berhasil mewujudkan keinginannya dan meminang anak seorang pejabat, walaupun pejabat rendahan. 

Seiring berjalanannya waktu ia-pun merancang bagaimana perdaganganya semakin besar dan menjadikanya sebagai saudagar terkaya. Ia melakukan berbagai langkah termasuk ikut dalam dunia politik. Ia menjadikan Genji Yoshitomo sebagai patron politiknya dengan membantu pemberontakan Yoshotimo terhadap pemerintahan perdana mentri Senzhei. Setelah Genji kalah oleh Heikei, Bamboku-pun berpindah arah ia berbalik memihak pada Heikei. Ia menjadi kawan politik yang baik, bahkan Bamboku menjadi salah satu penasehat Kiyomori, khususnya dalam percintaanya dengan Tokiwa. 

Berkat kedekatanya dengan Kiyomori, semakin memperpendek langkahnya untuk mewujudkan satu mimpinya yaitu menjadi pejabat. Di usia 50 tahun ia berambisi menjadi pejabat, walaupun ia dulu ia sering mencibir pejabat istana. Baginya kehidupan istana adalah kehidupan yang konyol dan memuakkan. 
Ia bahkan pernah mengatakan "Segala macam peraturan dan penghormatan total itu! tidak berharga karena aku hanya mengabdi pada diriku seorang!"

Bamboku ditunjuk sebagai "Pengawas Sungai Kamo" oleh Kiyomori. Jabatan itu merupakan jabatan golongan lima. Menjadi pejabat selain mepermudah sayap perdagannganya dan hanya sebagai pekerjaan "gensi!"

Siapapun bisa tergiur dengan jabatan termasuk si Bamboku

0 komentar:

Posting Komentar