Copyright © Yekti Ambarwati
Design by Dzignine
Senin, 13 Mei 2013

Menepi, dan pulang

lambat laun mereka pergi dari pikiran,
menyisakan suatu pengertian,
bahwa sudah saatnya aku harus kembali ke hutan.

Kebenaran

kebenaran akan selalu hadir seiring putaran semesta
tak dapat dihentikan ataupun dibendung toleransi ..
bukanlah kata yang tepat untuk menerima sebuah kebenaran
dan saya percaya semesta selalu memberikan kebenaran saat kau memintanya

Namanya "Manusia"!!

Tersebutlah suatu kesalahan penulisan pada halaman pertama.
Penulisan terus berlanjut hingga halaman terakhir selesai.
Seorang pembaca yang menyimak proses penulisan dan membaca halaman pertama sangat marah dan meneruskan membaca hingga halaman terakhir untuk melihat adakah kesalahan-kesalahan yang lain.
Sembari pembaca tadi menyelesaikan bacaannya, penulis menyadari kesalahan penulisan pada halaman pertama adalah fatal lalu dia membubuhkan tipe-x untuk menutupi kesalahn tersebut dan menggantinya dengan penulisan yang benar.
Salahkah penulis tersebut?
Penulis meminta maaf pada pembaca yang menyadari kesalahan penulisannya  dan telah menggantinya. Pembaca tetap marah dan tidak mau tau, lalu siapa sekarang yang salah?

Jangan mencari kesalahan dari cerita diatas. Apalagi menelusur bagaimana penulis bisa melakukan kesalahan pada halaman pertama. Bukankah penulis adalah manusia, tempat dosa dan salah.
Penulis menyadari kesalahannya dan meminta maaf, belumkah cukup puas pembaca yang tadi marah-marah?
Lalu pembaca tersebut tidak menerima permintaan maaf dari penulis. Siapa dia? Bahkan TUHAN pun memaafkan dosa besar umatnya. Sesombong itukah pembaca tersebut?
Lalu siapakah yang salah?
Tidak... jangan kembali mencari siapa yang salah.
Masihkah ada pemikiran positif barang sedikit untuk kembali melihat cerita diatas?
Penulis telah melakukan kesalahan,menyadari dan membenarkan. Ditambah lagi meminta maaf. Suatu usaha perbaikan dan itulah nilainya.
Bagaimana dengan pembaca yang tersulut emosi dan marah-marah serta tidak menerima permintaan maaf? Dia juga tidak salah. Dia tersinggung karena mungkin kesalahan tersebut adalah hal besar atau menyangkut hal-hal kesukaannya. Tapi sulutan emosi tadi kemungkinan belum padam sehingga dia tidak bisa melihat cela, sekedar mengingat bahwa TUHAN pun memaafkan dosa besar umatnya.