Copyright © Yekti Ambarwati
Design by Dzignine
Minggu, 03 Maret 2013

Rindu Punokawan


Membaca koran pagi di perpustakaan pusat menjadi pilihan tepat untuk menghemat kantong diakhir bulan ini. 

Membaca koran pagi ini rasanya membuat perut kaku tertawa, melihat dagelan para aktor politik. Dari Nazarudin yang bernyanyi tentang "Kampung Maling" yang membuat geram Marzuki Alie hingga kasus Dugaan Gratifikasi yang menyandung Pangeran Cikeas. Kian hari kian heboh saja Demokrasi politik Indonesia. Aku bukanlah orang yang fasih dalam menjelaskan tentang politik, walaupun dalam study yang sedang kutempuh sekarang sedikit banyak belajar politik dan hukum. Guru politikku selalu mengatakan "Tak ada hitam dan putih dalam politik dulu kawan sekarang bisa jadi lawan, itulah politik!". Ah benarkah? pertanyaan inilah yang sedang ku coba pecahkan. 

ah memikirkan ini menjadikanku semakin pusing saja seperti perkataan dosenku minggu lalu "Makin nyut-nyutan kepala kalo dibawa mikir politik Indonesia yang gaduh tapi ga produktif.." (@Halili Hasan) akhhirnya pilihan pragmatis menjadi pilihan sementara untuk mengendurkan otot-otot otak yang menegang karena hasil semsteran yang sedikit mengecewakan. Inilah Balada politik indonesia yang membutuhkan Punakawan. Yah Punakawan!

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, punakawan  diartikan sebagai “pelayan atau pengawal raja atau bangsawan pada zaman dahulu”, atau “abdi pengiring”. Barangkali, kalau diterjemahkan secara modern, mereka itu para loyalis, bahkan mungkin para abdi super loyalis. Kendatipun demikian, justru karena itulah mereka dikenal mampu memanfaatkan posisinya sebagai juru ingat para bangsawan alias bos yang diikutinya. Cara mereka mengingatkan, tampaknya tidak konfrontatif, dan yang khas adalah kejenakaannya. Mereka para dekonstruktor. Seperti makna teater Budaya yang berjudul "Semar Gugat" karya kawan-kawan FBS UNY akhir Tahun 2012 lalu. 

Kalau dalam pewayangan, kita dengan mudah mengidentifikasi kekuatan jahat atau Kurawa versus kekuatan baik atau Pandawa. Kalau Anda orang saleh, maka pilihan akan jatuh ke Pandawa. Tokoh protagonisnya adalah para Pandawa. Tetapi kan, kalau panggung politik kita itu jagat pewayangan!

Karena dengan kondisi yang sekarang ini susah pula kita cari mana yang benar-benar Pandawa dan mana musuhnya. Partai mana yang pandawa dan yang kurawa kan tidak jelas karena kekisruhan politik dan fitnah yang menyebar. Media mem packing dengan begitu rapinya. 

Di tengah-tengah situasi seperti ini, maka jelaslah dibutuhkan lebih banyak lagi para punakawan.  Tidaklah punakawan itu hanya ada di blok sebelah sini (katakan Semar), tetapi kan juga ada di blok sebelah sana (misalnya Togog). Karena Punokawan memiliki posisi yang unik. Mereka bisa di kubu manapun, tetapi kewajiban mereka justru bukan dalam soal merebut dan mempertahankan kekuasaan, tetapi dalam soal-soal memberi nasihat, baik diminta atau tidak, terlepas yang dinasihati mendengarkan atau malah tidur tapi iakan berupaya seoptimal mungkin mengkritik para bosnya melalui simbol dan tindakan alias bil hal

Rindu Punokawan karena kita rindu petikan ayat yang artinya “saling nasihat-menasihatilah kamu dalam kebenaran, dan kesabaran”. 

Wallahu'alam, Allah lah yang Maha Tahu jika ada kesalahan karena kecethekan otakku saja