Copyright © Yekti Ambarwati
Design by Dzignine
Minggu, 09 September 2012

Barat vs Jawa


Bismillah..

entah mengapa, tiba-tiba aliran darah dalam otak mengalir kencang, jantung berdegub kencang bak drum alunan musik rock. Setelah ku membuat tulisan yang sebenarnya mengejanya pun belum fasih, dengan “sarunya” ku membicarakannya. Tiba-tiba ada satu hal lagi yang mengganjal otakku ketika ku buka buku “Political Theory”. Buku yang harus ku lahap habis dalam waktu 2 minggu.
Seringkali ku tepuk jhidat, ketika melihat buku itu, bukan karena ku tak sanggup membacanya. Hanya saja mengkaji Al-Qur’an dan Hadist saja belum jua tamat. Tapi ilmu dunia seringkali menuntutku untuk menyelesaikannya.
 Kita tahu, ilmu-ilmu dunia berkembang dari sebuah kajian yang bernama “Filsafat” hingga filsafat dijuluki dengan sebutan bapaknya ilmu oleh sebagian filusuf. Terserah, bagiku semua ilmu dunia sudah terangkum dalam satu refrensi besar yaitu “Al-Qur’an”. Namun, entah mengapa kita termasuk saya seringkali lebih bangga ketika kita mengambil dalil-dalil orang Barat dibandingkan dalil dalam Al-Qur’an.
Tapi maaf saudara, tulisan kali ini tidak akan membahas tentang Filsafat barat dan Al-Qur’an karena saya takut berdialektika tentang hal itu. Takut kebelinger tepatnya. Saya hanya membandingkan Orang barat dengan tanah kelahiranku “Jawa”. Ada yang menarik perhatianku ketika membandingkan keduanya Berbeda dengan filsafat Barat, yang berakar dari filsafat Yunani (Socrates dkk.), jika dalam filsafat barat kita akan diajak untuk mencari unus terkecil dalam suatu subyek, maka dalam filsafat jawa berbeda. Karena bagi orang jawa semua adalah perkara pekerjaan.
Bukan tugas manusia memikirkannya. Jika plato memikirkan tentang bagaimana timbulnya suatu negara dan politik maka orang jawa tidak perlu memikirkan bagaimana menjadi sebuah negara dan bagaimana ada politik namun cukup bagaimana menjadi cukup bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik, agara negaranya aman, tentran dan bahagia.
Filsafat jawa membicarakan hal-hal yang lebih sederhana dan mendalam. Orang Jawa tidak mau pusing-pusing memikirkan apakah bumi berbentuk bulat ataukah lonjong, tapi yang penting adalah bagaimana manusia menjaga keselarasan (harmoni) dengan alam semesta, dan terlebih lagi dengan sesamanya: ‘uripku aja nganti duwe mungsuh’ inilah yang senantiasa ditekankankan oleh Simbah kakungku saat sowan ketempatnya.
 Filsafat Jawa mengajarkan kehidupan yang sederhana, dan menginsyafi bahwa harta benda tidaklah memberikan kebahagiaan yang hakiki: ‘sugih durung karuan seneng, ora duwe durung karuan susah’. Meski demikian manusia harus bekerja: ‘urip kudu nyambut gawe’, dan mengetahui kedudukannya di dalam tatanan masyarakat.  Manusia Jawa percaya bahwa setiap orang memiliki tempatnya sendiri-sendiri: ‘pipi padha pipi, bokong padha bokong’ seperti celotehan si mbah phitruk salah satu tokoh dalam punokawan. Kebijaksanaan kuno ini bahkan selaras dengan ilmu manajemen modern yang mengajarkan bahwa setiap individu harus memilih profesi yang cocok dengan karakternya. Setelah menemukan bidang profesi yang cocok, hendaknya kita fokus pada bidang tersebut, sebab jika kita tidak fokus akhirnya tak satupun pekerjaan yang terselesaikan: ‘Urip iku pindha wong njajan. Kabeh ora bisa dipangan. Miliha sing bisa kepangan.’
-labirin otak, 9 September 2012-
karena hanya sebuah dalektika, bisa saja keliru karena saya bukanlah Tuhan yang Maha Benar ^^
Jika ada yang salah mohon diluruskan :D

0 komentar:

Posting Komentar