Copyright © Yekti Ambarwati
Design by Dzignine
Senin, 21 Mei 2012

Sobat aku bersamamu!

Jejak langkah itu cepat nian, cepat secepat tarikan nafasnya kian jauh, kian mendaki gunung yang tinggi itu hingga terengah-engah dan duduk di antara bongkahan batu yang berbentuk bangku itu. Dengan wajah yang lelah namun masih terbesit semangat dalam raut wajahnya itu. siapa dia?? dalam hatiku bertanya-tanya.begitu semangatnya orang itu tuk mendaki lereng gunung ini. lereng yang terjal.

Mencoba ku susul langkah cepatnya itu namun lagi-lagi aku harus terseok-seok diantara batuan yang mengangah dan ilalang berduri. Terlebih lagi matahari kala itu sedang tak bersahabat. Namun bayangan orang itu terus melaju tanpa henti.sempat terbesit untuk menyudahi saja perjalanan ini. Namun rasa penasaran yang membuncah ini tak sanggup dibendung.

Hingga tiba-tiba ditengah perjalanan nampak bayangan itu terhenti. "kenapa tuh orang?" dalam hatiku bertanya-tanya."hemmm....mungkin capek," akupun mencoba untuk menerka-nerka penyebabnya.

Dengan gesit ku ambil kesempatan itu untuk menyusulnya dan melihat wajahnya yang penuh semangatt. Jejak langkah larinya cukup tahan uji. Rasa penasaran yang tinggi ini mengajakku berlari menghampiri bayangan itu hingga terengah engah payah. Dan aku duduk disampingnya.
"huftttt.....," udara yang merupakan hasil pernapasan pun kuhembuskan panjang-panjang.

Dengan penuh penasaran ku lihat wajahnya yang Termangu. Tenggelam dalam samudera keheningan pemandangan alam hijau kelabu kebiru-biruan.
"Mengapa anda berhenti disini?" tanyaku penasaran
"Aku lelah, perjalanan ini terlalu panjang dan terja bagikul...ku ingin menyudahi saja" jawabnya pesimis dan ragu

"lelah itu wajar karena kita bergerak,, namun jika kau memutuskan berhenti sampai disini, kau tak akan menikmatinya, kau hanya dapat lelahnya saja kawan," ujarku mencoba untuk membangkitkan reaksinya.

"tapi bagaiamana dengan batu-batu ini??" keluhnya 
"batu akan tetap menjadi batu, dia tak akan bisa menjadi spon yang empuk..tapi buakankah batu bisa disingkirkan??" jawabku

"tenang saja kawan aku akan membantu menyingkirkan batu-batu ini" dengan dagu diangkat dan optimism ku menepuk-nepuk bahunya.


Djogja, 21 Mei 2012
-Ruang belajar-
Jumat, 18 Mei 2012

Kejadian di Pagi hari

meneyentuh dedaunan yang masih basah terembunkan
kesejukan meresap berpacu sealiran darah terhantarkan oleh ujung-ujung jari
akal telah sedari tadi terbangun
telah berputar kembali mengingat kenangan sehari yang terlampaui
kenangan akal dalam sebuah pagi

Bismillah..
langkahkan kaki pagi sedikit menapak menyusuri setapak
ahh... terik mentari mengusik telinga dan separuh wajah dari kiri
berpaling kutatap tantangan maha cahaya
ahah.. dia seperti menyapa
membelai wajah dengan kelembutan ultraviolet
bulu-bulu di tubuh mulai berdiri tersapa cahaya
terbangunlah kekuatan terbesar dalam semangat
melanjutkan kenangan akal dalam sebuah pagi
ya..
kenangan akal dalam sebuah pagi

belum tersadar dari ketaktakjuban daun-daun dan embun-embun
dan terbuai oleh mandian cahaya mentari malu pagi
tiba-tiba
tiba-tiba riuh rendah siul bernada lengking indah dengan irama mendayu
mengejutkan takjubku akan pagi
itulah nyanyian burung-burung pagi
jelas ditelinga meskipun tak tertangkap oleh pandangan mata
berdiam menikmati
sejenak diam,
sepertinya burung berpindah mengembara untuk menyapa penghuni semesta lainnya

seret langkah kembali kebelakang
lengkap sudah kenangan akal dalam sebuah pagi
semangat tumbuh dan meraja
bekal melanjutkan hari

Terimakasih

Aku menikmati senja yang gelisah
dengan lentera berlumur jelaga
merebah pada hulu air yang keruh
sisakan tanya kian bertalu

Kunang-kunang enggan hinggap diranting jiwaku
sekedar terangi pekat sembilu
masygul rupa dan rasa yang sirna
menelan mimpi-mimpi yang payah

Senja ini tak berhias seperti mauku
tak sepertimu selalu mewarnai hatiku
senja ini kian jengah menemuiku
tak sepertimu selalu membunuh kesepianku
Rabu, 16 Mei 2012

Kaku

Namaku Yekti
Orang yang sok puitis tapi tak bisa puisi
Harga diri adalah harga mati
Hingga harga diri bagiku lebih tinggi dari hartaku
Dan kaku seperti kayu
jadi maaf jika aku kaku
Karena aku adalah aku




Diantara kebanyakan orang aku adalah orang yang tak bisa mengekspresikan perasaanku terlebih lagi soal mengungkapkan rasa sedih dan sayang. sayang sama orang tua, saudara, dan semua yang ada dibumi.
hemmmm...agak lebay sih, tapi itulah aku
Rabu, 09 Mei 2012

Catatan Kecil

Sebelum angin itu membadai
Mengumpulkan benih-benih hujan
Lalu turun ke jalanan
Membersamai debu, ranting-ranting rapuh dan kotoran
Yang mungkin akan memporak-porandakan impian

Korup adalah kesadaran menyalahi aturan

Lalu yang menjadi pertanyaannya
Bagaimana jika aturannya yang menyalahi dan menyimpang dari kesadaran kemanusiaan (korup)?

Apa yang harus dilakukan?
Apa iya kita tidak terjebak sebagai pelaku korupsi? Dengan membiarkan aturan yang menyalahi dan menyimpang dari kesadaran itu tetap dengan sadar kita lakukan dan tetap kita jadikan sebagai aturan

Bukankah budaya atau peradaban itu dibangun dari pernikahan atau perselingkuhan antara aturan dan kesadaran
Bukankah kehidupan itu bagai rantai yang tak berujung dan saling berkaitan
Dimana hukum sebab akibat adalah suatu kesatuan

Mari mengurai benang kusut dan mencari mata rantai yang hilang..

# catatan kecil inspirasi dari seorang kawan

Bangun!

Cepat bangun!

dan segeralah lihat ke langit

         sudah ku lukis dua buah pelangi untukmu

                        Yekti Ambarwati...

Detik yang Berdetak II

Hanya Sesak didada yang kualami selama dua hari ini. " hemmmmm... mungkin karena kurang syukur kali yak.."Namun selama dua hari ini ada pelajaran yang berharga bagiku,, karena " Detik yang Berdetak"


Detik yang telah berdetak adalah takdir, bersabar dan bersyukurlah
Detik ini adalah nasib, rubah dan berusahalah
Detik yang akan berdetak adalah ghaib, berharap dan berserah dirilah

Karena detik yang berlalu memberikan pelajarn bagiku dan memunculkan kata "Seharusnya". "Seharusnya" memiliki makna yang luas bagiku, ia melambangkan penyesalan, namun ada hikmah dibaliknya sehingga kita mampu mengambil sikap jika berulang.
Dan untuk detik yang berjalan ini aku tak akan mengulangi kesalahanku yang lalu, karena ku telah mengatakan "seharusnya" tidak begini dan begitu... jadi masih dapat dirubah apa yang akan terjadi dengan berusaha
Detik-detik yang mendatang adalaha harapan karena ghoib. 

Detik-detik tak akan terulang.. 
Detik sekarang dan berikutnya adalah kesempatan 
Detik yang berulang adalah pelajaran.."

Detik Yang Berdetak


Detik yang telah berdetak adalah takdir, bersabar dan bersyukurlah
Detik ini adalah nasib, rubah dan berusahalah
Detik yang akan berdetak adalah ghaib, berharap dan berserah dirilah
Senin, 07 Mei 2012

Partai Politik Lokal sebagai Local Responsive


Di dalam literatur, desentralisasi atau otonomi daerah, baik yang menekankan pada desentralisasi administrasi maupun politik, disebutkan pentingnya lembaga di daerah dalam pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah. Yang membedakan adalah jika desentralisasi administratif lebih memperbincangkan kesiapan lembaga lokal dalam memberikan pelayanan kepada publik di daerah, sedangkan desentralisasi politik lebih memberikan perhatian bagaimana lembaga lokal mampu membangun proses politik yang lebih baik. Agar lembaga di tingkat lokal mampu melaksanakan desentralisasi, maka dilakukan perubahan kelembagaan yang substansial dalam struktur organisasi dan fungsinya. Seperti di Belanda pada 1980-an, perubahan di dalam pemerintahan lokal lebih banyak dipengaruhi gagasan Manajemen Publik Baru (the New Public Management) dipopulerkan negara Anglo Saxon. Sementara, di Jerman dipengaruhi gagasan renewal of politics from below yang menekankan pentingnya pelembagaan partisipasi publik dan bentuk pembuatan keputusan publik dari bawah (bottom up). Pada 1980-an Jerman mengikuti model Belanda dan Belanda mengikuti model Jerman. Dengan kata lain, dua negara itu mengupayakan mengimplementasikan kebijakan desentralisasi, dipengaruhi 2 arus pemikiran sekaligus.