Copyright © Yekti Ambarwati
Design by Dzignine
Senin, 23 April 2012

Tanpa-Mu

aku rebah di pangkuanMu
bukan tuk mengadukan beratnya beban langkahku

aku menangis di pangkuanMu
bukan tuk mengadukan beratnya beban di pundakku

aku menangis di pangkuanMu
karena memang aku tak berdaya tanpaMu

aku menangis di pangkuanMu
karena aku takkan bisa hidup tanpaMu

dan aku selalu ingin menangis di pangkuanMu
karena memang aku selalu rindu
rindu menangis di pangkuanMu
selalu

Cinta & Benci

Ketika manusia menanam cinta
Cinta akan tumbuh di dalam jiwa

Ketika manusia menanam benci

Benci akan tumbuh di dalam hati

Ketika manusia pergi
Cinta dan benci akan tetap bertumbuh di bumi

Kebaikan dan keburukan akan kembali kepada dirinya sendiri...
Rabu, 18 April 2012

Bahasa dan Bangsa

Saya ditakdirkan untuk manjadi orang jawa tulen. Bapak ibuku dari jawa begitupula nenek kakekku dari jawa asli. Bagi kami orang jawa hal yang diwariskan pertama kali atau dtekankan pertama kali dalam kehidupan masyarakat adalah bahasa. Karena bagi nenek moyang kita bahasa mennetukan bangsanya. Itu tak berarti orangtua/ nenek moyang kita sudah memikirkan sebuh konsep tentang “nasionalisme” atau “nation” dengan keutuhan bahasa.

Sebab jika kita renungkan kembali makna “bangsa” dalam kalimat di atas menunjukan pada suatu struktur kelas masyarakat tertentu. Disini berarti bahasa dijadikan takaran mengenai martabat dan latar belakang seseorang. Ketika bahsa dapat dijadikan sebagai takaran mengenai martabat dan latar belakang seseorang disinalah kemudian bahasa dijadikan sebagai control sosial masyarakat. Bagaimana tidak?? dijawa cara bicara seorang tukang becak kepada gubernur berbeda ketika ia sedang berbicara dengan tukang jamu pun sebaliknya.

Sungguh menabjubkan ketika bahasa kususnya bahasa daerah dapat menjadi remote control bagi ratusan bahkan ribuan individu. Jelas disini menunjukan suatu evolusi sejarah sosial-politik yang berkepanjangan.
Senin, 16 April 2012

Antara Aturan dan Kesadaran


Bercerminlah pada masa lalu
Politik adu domba hanya untuk menjarah kekayaan alam yang kaya raya
Dimana kita hanya menjadi budak-budaknya saja
   
Ataukah kita memang sudah tak punya lawan
Sehingga harus selalu berkawan dengan pertikaian
Dikarenakan ego dan kesombongan
   
Telah berdiri kerajaan-kerajaan baru di nusantara
Namanya partai A, B, C,….. banyak lainnya
     
Dan telah lahir berhala-berhala dari tangan putra-putri ibu pertiwi
Namanya isme-isme dan undang-undang sesuka hati
   
Lalu yang menjadi pertanyaannya?
Negara ini mau dibawa ke mana dan menjadi apa?
Kita ini mau ke mana dan menjadi apa?
Lantas Aku ini apa dan aku ini siapa?
   
Bukankah aturan dan kesadaran itu bagai dua sisi mata uang
Bukankah aturan dan kesadaran itu bagai telur dan ayam
Bukankah aturan dan kesadaran itu bagai ilmu dan amal.
Senin, 02 April 2012

Gotong Royong adalah Kuncinya!!!


Pramodeya Ananta Toer yang kerap dipanggil “Pram” merupakan satrawan dan budayawan yang anti penindsan dan anti kolonialisme yang dimiliki bangsa Indonesia. Maka tak heran karya-karyanya kerap dibakar dan dilarang. Karena karya-karyanya itulah hampir separuh hidup Pram habis dalam penjara. Tiga  Tahun dalam penjara Kolonial, satu Tahun di Orde Lama, dan 14 tahun pada Orede Baru. Layaknya orang-orang besar dalam sejarah, penjara tak membuatnya berhenti sejengkalpun menulis. Baginya, menulis adalah tugas pribadi dan nasional.

Pendakian Senja

Sebuah cerita di siluet senja keharmonisan
persahabatan adalah sebuah perjalanan
ibarat mendaki sebuah puncak pegunungan
walau ribuan jalan pulang kan memisahkan
ribuan pendakian kan menyatukan kerinduan

rindu yang mengisahkan ribuan bingkai kenangan
bersama ribuan jejak kaki yang berjalan beriringan
dimana beban menjadi ringan

dimana rintang tak menjadi penghalang
tuk menghantarkan pada sebuah tujuan
malam dimana kabut menghilang
lampu lampu perkotaan dihamparkan
mengerdilkan ego dan kesombongan

kemudian lelah pun telah rebah
di antara senandung senandung alam
rerumputan
ilalang
reranting dan dedaunan
semua berdendang
bersama perapian yang menari di dinginnya hembusan angin malam
semua terlentang
menghadap bentang langit malam
dimana bintang bintang menemani sang rembulan
berlarian
menari
hingga satu dua berjatuhan
lalu menghilang
dan semburat fajar pun datang
membentang bersama senyuman
senyum yang menghangatkan jiwa jiwa yang memendam kerinduan

 karena persahabatan ibarat sebuah pendakian
yang terbingkai dalam suka duka perjalanan
yang akan menjadi kerinduan
dan menghadirkan senyuman