Copyright © Yekti Ambarwati
Design by Dzignine
Jumat, 30 Maret 2012

Catur Berdebu

Dengan gagah para domba tertawa
Dalam sebuah turnamen yang ia cipta
Meraup tawa dalam duka
Membuat luka semakin menganga

Saudara kembar memainkan bidak catur
Seolah bertempur dengan alur
Mengadu domba…domba pun beradu
Seolah rupiah bisa merayu

Aku dan negeri ini menangis
Menangisi hati yang beku
Menyaksikan potret rumahku
Di hancurkan oleh debu

Menari Bersama

Terlihat iring-iringan di kejauhan
Dendangkan lagu-lagu kehidupan

Kawan
Teruslah menari
Temani mereka yang menari
Walau dengan tarian beda
Tambahkan nada yang kita punya
Agar warnai indahnya kebersamaan
Dalam jalan yang teramat indah diciptakan
Semoga indah hari-hari kedepan
Semoga indah perjumpaan
Dengan yang menciptakan keindahan

-Ruang dialektikaku.
Djogja, 30 Maret 2012

Menghakimi


Siluet keharmonisan senja mulai kabur ketika kau bertanya
Siapa yang melakukan ini?? kau yang melakukanya?
Bukan, bukan aku yang melakukanya
Ah, pasti kau yang melakukannya
Sungguh buka aku yang melakukanya
Tapi aku masih yakin kau yang melakukannya
Baiklah, aku akan melakukannya

_Ruang penuh Label_
Djogja, 29 Maret 2012

Diam

satu dua hari aku diam
dua tiga minggu masih diam,
empat lima bulan ku masih diam,
sampai bulan tak bersinar dan mentari telah sirna


_Ruang tanpa kata_
Djogja, 28 Maret 2012
Kamis, 29 Maret 2012

Pagi

Pagi yang indah kujelang kembali
Menghempaskan mimpi meraih bergantinya hari
Di ufuk timur tersirat cahaya kedamaian
Membangkitkan semangat menghangatkan perasaan
Hembusan angin menemaniku berjalan
Mengiringi langkah berpadu dalam kepastian
Gemersik dedaunan bak irama kehidupan
Selalu setia menyanyikan lagu kemenangan
Dalam menggapai makna cita dan cinta
Dalam mewujudkan makna hidup yang sesungguhnya
Biarkan pergantian hari terus berjalan
Karena setiap saat akan selalu kujelang
Senin, 26 Maret 2012

Bimbang

Semua tanyaku hanya terlempar
ke langit kelabu yang masih saja asing
Luap rasa menggores bimbang
diam; emas bagi jiwa yang mengaku pengecutt!!

Menelingkung?! ataukah
pengecut dalam tempurung bisu
Ditetiap hujam kata yang memaku pilu satu satu
makian terhampar, segenap diri jatuh sudah 


Entah…
lantak sudah harap
letih, menghempas semua tanya
Biarkan saja semua tanya ini terlempar ke atas sana
biarkan bintang-bintang saja yang mengerti

Jenuh

Ketika rasa jenuh tiba
Melangkah hari tanpa tujuan
Hari esok tiada lukisan
Rasa acuh memenuhi dada

Memandang tanpa arah
Melihat tanpa makna
Tiada kata yangmengarah
Kecuali hati yanglelah

Sabtu, 24 Maret 2012

Hikayat Kematian


Aku pergi ke selatan
Aku mengobrak-abrik karang di dasar lautan
Untuk menantang kematian
Ternyata ia mengizinkanku untuk berkunjung
Lalu mengajakku karam tenggelam dan hilang

Aku pergi ke awan
Aku bersembunyi di balik bulan
Untuk lari  menjauh dari kematian
Ternyata ia enggan membuntutiku
Karena ia telah menunggu didepanku

_Ruang dialektikaku_
Djogja, 24 Maret 2012

Hutan Beton


Hujan adalah keberkahan
Menumbuhkan

Lalu apa jadinya jika hujan beton tak menumbuhkan dedaunan dan buah-buahan
Rumah-rumah tak bertaman
Taman-taman tak bertanaman
Tanaman tak mengakar ke dalam dengan ranting-ranting dedaunan yang rindang meneduhkan
 Hanya kehampaan, kepanasan, dan kekeringan yang terlukisakan


_Ruang dialektiakku-
Djogja, 24 Maret 2012
Jumat, 23 Maret 2012

Tak ada yang Abadi


Hidup, jika ada hitam maka ada putih. Ada senang ada susah. Apabila siang datang maka petangpun menghilang. Si kaya ada karena ada si miskin. Begitupula dengan kecantikan/ketampanan ada karena ada kejelekan. Ada perjumpaan ada pula perpisahan.

Sendiri


Gambar pribadi, sendiri diruang dialektikaku (Yekti A)
Sendiri..,
Sendiri...biarkan aku sendiri..
Sendiri melayang bersama mimpi yang tak bertepi..
Sendiri..
Sendiri,,biarkan aku sendiri..
Sendiri bersama rasa hati..
Sendiri… dan Sendiri

_berdiri tegak dipersimpangan jalan_
Djogja, 23 Maret 2012

Simfoni Hitam


Lisan ini..ah..
benar kata pepatah “Tajamnya pedang lebih tajam lagi lisan”
ini terjadi padaku. Seperti malam-malam biasanya sebelum menutup mata menuju pulau kapuk aku dan kakaku selalu menyempatkan untuk berdiskusi. Berdiskusi mengenai segala hal dari masalah Politik, sosial, ekonomi hingga kehidupan kampus. Perbedaan mengenai suatu masalahpun sering tak terhindarkan, namun berbeda kali ini Kakakku merasa yang ku katakan tak pantas terlebih lagi menurutnya hal tersebut semaikn mencerminkan  aku adalah orang “”Egois”
Minggu, 04 Maret 2012

Rindu Rumah

Bismillah...

“Pulanglah nak…., saudara-saudaramu menunggumu.”uajar seorang kakak kepada adiknya yang bingung menuju jalan pulang.
 
“Tapi kak, dirumah sudah terlalu banyak orang-orang yang lebih baik dari ku, aku pergi saja dan mencari rumah yang jarang dan bahkan tak ada penghuninya,”jawab adiknya.