Copyright © Yekti Ambarwati
Design by Dzignine
Rabu, 04 Januari 2012

Wartawan Itu Tangguh

Dunia ini dengan segala isi dan peristiwanya tidak bisa melepaskan diri dari kaitannya dengan media massa; demikian juga sebaliknya, media massa tidak bisa melepaskan diri dari dunia dengan segala isi dan peristiwanya. Hal ini disebabkan karena hubungan antara keduanya sangatlah erat sehingga menjadi saling bergantung dan saling membutuhkan. Segala isi dan peristiwa yang ada di dunia menjadi sumber informasi bagi media massa. Selanjutnya, media massa mempunyai tugas dan kewajiban, selain menjadi sarana dan prasarana komunikasi, untuk mengakomodasi segala jenis isi dunia dan peristiwa-peristiwa di dunia ini melalui pemberitaan atau publikasinya dalam aneka wujud (berita, artikel, laporan penelitian, dan lain sebagainya) dari yang kurang menarik sampai yang sangat menarik, dari yang tidak menyenangkan sampai yang sangat menyenangkan tanpa ada batasan kurun waktu.
Terlebih lagi ketika sebagaian negara di berbagai belahan dunia memilih demokrasi sebagai pilihan sistem politik negaranya. Keberadaan media massa menjadi sangat kuat dan sangat penting. Karena keterbukanya informasi dan tersediannya media massa menjadi syarat suatu negara menjalankan demokrasi seutuhnya. Hal ini terjadi karena kebebasan mendapatkan informasi publik menjadikan pemerintahan yang bertanggung jawab dan transparan, pengawasan publik berjalan sehingga dapat meningkatkan partisipasi publik atau masyarakat.
Jika kita membicarakan media massa maka tidak terlepas dari peran ‘Wartawan’. Bagaimana tidak?? berita ada karena kerja keras wartawan dalam mencari dan mengemas berita.
 Wartawan itu tangguh. mengapa?? Tidak bermaksud lancing, dalam dunia perpolitikkan sekarang wartawan adalah “polisi dan KPK” bagi para elit politik kita. Hampir semua kasus korupsi yang terjadi di Indonesia dikuak oleh wartawan. Ambil saja contoh kasus korupsi wisma atlet, dari pada polisi atau KPK, wartawanlah yang pertamakali menguak kasus tersebut dan menyeret nama-nama petinggi Partai Demokrat seperti Nazaruddin, Anas Urbaningrum, Angelina Sondaq,dan Andi Malarangeng. Belum lagi pada kasus Mesuji kemarin, wartawanlah yang pertama kali mnguaknya, baru kemudian para penegak hukum negara kita kelabakan termasuk kementrian Hukum dan Ham.
Wartawan adalah perpanjangan lidah masyarakat. Wartawan adalah media penyaluran aspirasi dan keadaaan masyarakat dari penjuru negri, seperti kasus kekeringan, busung lapar, bencana alam (banjir, gempa bumi, gunung meletus, tsunami ,tanah longsor), dan masih banyak lagi.
Wartawan adalah jemabatan dunia, melalui berita yang disajikan oleh wartawan kita dapat mengetahui keadaan geopolitik hingga fasion di luar negeri, seperti pristiwa “Revolusi Libya” yang menjatuhkan Kadhafi dari pemerintahan.
Wartawan itu guru dari pengetahuan umum dan politik. Mengapa demikian? Melalui media massa para wartawan memberitakan perkembangan ilmu pengetahuan terkini bahkan ada salah satu media massa mengabarkan hasil-hasil riset terkini diberbagai belahan dunia. Wartawan adalah media pendidikan politik, melalui media massanya wartawan mengabarkan mengenai berbagai perkembangan politik maupun hanya sekedar pemberitaan pemilu, dan membuat masyarakat tertarik untuk memilih wakilnya.
Wartawan salah satu pekerjaan yang dapat menggerakan masyarakat dan menciptakan gerakan sosial, sebut saja dalam kasus Prita dan Yayasan Rs. Omni International setelah wartawan meliput dan memberitakan di media massa masyarakat memunculkan satu gelombang konvergensi berupa gerakan “Koin Peduli Prita”, dan masih banyak lagi.
Yang jelas keberadaan wartawan melalui media massa sangat berpengaruh terhadap dunia ini, seperti pernyataan William L. Rivers (Rivers 2003:ix) “kondisi di dunia nyata mempengaruhi media massa, dan ternyata keberadaan media massa juga dapat mempengaruhi kondisi nyata dunia.”


-diruang dialektikaku dengan keterbatasan pengetahuanku-

0 komentar:

Posting Komentar