Copyright © Yekti Ambarwati
Design by Dzignine
Selasa, 31 Januari 2012

Pahlawan tanpa Pangkat


Capung-capung melayang-layanng di udara  bak pesawat terbang, diiringi nyanyian jangkrik dan tarian kupu-kupu. Senja ini sungguh indah. Diantara hamparan padi yang menhijau itu masih terselip sepetak sawah yang ditanami kacang tanah, itu adalah sawah embah. Entah mengapa ketika orang-orang menanam padi simbahku palah memilih menanam kacang, yang sekarang sudah siap panen.

“Mbah, kok beda sama yang lain?? Yang lain nanem padi kok mbah nanem kacang?” tanyaku
“Owh, ini bekas nanem winih nduk,, buat nanem padi sawah lor,” jawab simbah sambil tersenyum

Aku adalah orang desa. Ayahku seorang petani dan dari keluarga petani juga, sedangkan ibuku seorang pedagang yang berasal dari keluarga petani juga. Hampir seluruh masyarakat di daerahku bekerja sebagai petani, namun tak jarang pula yang menjadi pedagang dan PNS namun jumlahnya kecil sekali. 

Namun aku bangga menjadi anak petani,bagiku petani adalah pahlawan. walau banyak orang memandang sebelah mata. Bagi mereka petani adalah pekerjaa yang tidak menjajikan dan identik dengan desa yang udik dan kampungan. Tapi bagiku tidak!!!

Jika kita bayangkan, tidak ada petani di Indonesia, apa yang terjadi?? Siapa yang akan menghasilkan beras, buah-buhan, sayur-mayur?? Apakah presiden? Ataukah Ekonom?? 

Petani adalah pahlawan tanpa pangkat, ia pahlawan yang tak pernah dilirik bahkan sering diabaikan. Indonesia terkenal sebagai negara Agraris dan Maritim, tapi rakyatnya malu jika bekerja menjadi petani. Para petani dianggap pekerjaan rendahan.  Berbeda dengan jepang, disama pekerjaan petani adalah pekerjaan terpandang setelah Guru.
Senin, 30 Januari 2012

Kendala dalam Penegakan Etika Jurnalistik

Kita harus mengakui bahwa sejak awal Reformasi ada kendala yang dihadapi dalam menegakkan kode etik jurnalistik pada umumnya. Yang salah dalam hal ini bukan kode etiknya dan juga wartawan secara keseluruhan, melainkan dinamika pers itu sendirilah seiring dengan kebijakan politik pemerintah Presiden B. J. Habibie pada pertengahan tahun 1998. Dengan kata lain, diakui atau tidak bahwa kendala yang dihadapi dalam menegakkan etika jurnalistik beberapa tahun terakhir tidak terlepas dari berbagai perubahan yang terjadi dengan bergulirnya Reformasi, termasuk di bidang pers.

Secara khusus dapat dicatat bahwa Menteri Penerangan Muhammad Yunus Yosfiah pada pertengahan tahun 1998 secara drastis membuka lebar-lebar koridor kebebasan pers melalui sejumlah regulasi baru di bidang pers.

Pada 6 Juni 1998, misalnya, ia mengeluarkan Peraturan Menteri Penerangan yang mencabut dan mengubah Permenpen No. 1 Tahun 1984 tentang Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Kalau semula Permenpen No. 1 Tahun 1998 tersebut menetapkan 16 syarat yang harus dipenuhi untuk mendapat SIUPP, maka Menteri Yunus Yosfiah menyederhanakannya dengan hanya tiga syarat. Prosesnya pun sangat singkat, dalam dua atau tiga hari kalau ketiga syarat telah terpenuhi, SIUPP telah dikeluarkan. Selain menyederhanakan prosedurnya, ketentuan SIUPP yang baru itu pun tidak lagi mengenal pembatalan SIUPP oleh pemerintah.

Rebutan Remot TV# Part II

Masih di segmen "Rebutan remot TV", malam ini ada acara konser boy band & gril band di salah satu stasiun tv dan dalam waktu yang bersamaan ada acara konser dangdut di stasiun tv saingannya. kali ini bukan aku, ayahku dan ibuku yang rebutan remot tv, tapi giliran adikku yang baru kelas 4 SD.

Ayahku berkoalisi dengan ibuku untuk bersaing  melawan adikku yang ngotot pengin nonton konser boy band & gril band. Maklum anak muda, sedang terkena sindrom korea. Tapi bicara soal dangdut dan boy band &gril band ada yang menggelitik perhatianku. bagaimana tidak?? kedua aliran itu sangatlah kontras sekali dan bertolak belakang.
dangdut yang identik dengan orang desa yang udik dan cupu sedangkan k-pop identik dengan moderen dan gaul. Walau dangdut adalah musik orang desa dan orang-orang kecil namun ketenaran dangdut tak dapat digantkan.

Siapa yang nggak tahu dangdut?? dari tukang becak hingga presiden tahu apa itu dangdut. Beda dengan boy band &gril band belum tentu tukang becak tahu, hanya mereka yang ngaku gaul dan modern saja.

Rebutan Remot TV# Part I

Bismillah...

Rebutan acara TV?? itu adalah kerjaanku dulu waktu masih kecil. Setelah seharian menguras tenaga di depan tungku kecil dan batu ukuran 1x0,5m ibuku selalu merebahkan tubuhnya kasur depan TV demikian ayahku, setelah seharian bergulat dengan cangkul dan arit dibawah terik matahari. Ya, kasur depan TV adalah tempat favorit kami sekeluarga ketika malam tiba. Dan hampir setiap hari pula aku, ayahku dan ibuku selalu rebutan acara TV. Aku dan Ayahku lebih suka nonton acara berita dan acara yang ringan dan lucu sedangkan ibuku demen banget sama sinetron, maklum ibu-ibu. Dan akhirnya aku dan Ayahku yang mengalah, dan lebih suka kabur dari rumah ke rumah embah.

Dari dulu aku memang tidak suka sama sinetron indonesia, karena menurutku ceritanya hanya berkutat rebutan harta, pacar, hingga suami/istri. Ya, walaupun ada yang brekualitas, namun itu hanya sedikit
Kamis, 19 Januari 2012

Pengangkatan Anak


BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Manusia sudah dikodratkan untuk hidup berpasang-pasangan membentuk sebuah keluarga yang terdiri dari suami istri dan pada umumnya juga menginginkan kehadiran anak atau keturunan hasil dari perkawinannya. Mempunyai anak merupakan tujuan dari adanya perkawinan untuk menyambung keturunan serta kelestarian harta kekayaan. Mempunyai anak adalah kebanggaan dalam keluarga. Akan tetapi terkadang semua itu terbentur pada takdir ilahi dimana kehendak memperoleh anak meskipun telah bertahun-tahun menikah tak kunjung dikaruniai anak, sedangkan keinginan untuk mempunyai anak sangatlah besar. Jika demikian, penerus silsilah orang tua dan kerabat keluarga tersebut terancam putus atau punah.
Rabu, 04 Januari 2012

Wartawan Itu Tangguh

Dunia ini dengan segala isi dan peristiwanya tidak bisa melepaskan diri dari kaitannya dengan media massa; demikian juga sebaliknya, media massa tidak bisa melepaskan diri dari dunia dengan segala isi dan peristiwanya. Hal ini disebabkan karena hubungan antara keduanya sangatlah erat sehingga menjadi saling bergantung dan saling membutuhkan. Segala isi dan peristiwa yang ada di dunia menjadi sumber informasi bagi media massa. Selanjutnya, media massa mempunyai tugas dan kewajiban, selain menjadi sarana dan prasarana komunikasi, untuk mengakomodasi segala jenis isi dunia dan peristiwa-peristiwa di dunia ini melalui pemberitaan atau publikasinya dalam aneka wujud (berita, artikel, laporan penelitian, dan lain sebagainya) dari yang kurang menarik sampai yang sangat menarik, dari yang tidak menyenangkan sampai yang sangat menyenangkan tanpa ada batasan kurun waktu.
Terlebih lagi ketika sebagaian negara di berbagai belahan dunia memilih demokrasi sebagai pilihan sistem politik negaranya. Keberadaan media massa menjadi sangat kuat dan sangat penting. Karena keterbukanya informasi dan tersediannya media massa menjadi syarat suatu negara menjalankan demokrasi seutuhnya. Hal ini terjadi karena kebebasan mendapatkan informasi publik menjadikan pemerintahan yang bertanggung jawab dan transparan, pengawasan publik berjalan sehingga dapat meningkatkan partisipasi publik atau masyarakat.