Copyright © Yekti Ambarwati
Design by Dzignine
Senin, 31 Desember 2012

Pledoi sebagai Mahasiswa!


Sudah lama aku tidak menghadap monitor, menyuntuki sebuah tulisan; entah itu karya fiksi, essai, review, ataupun sekadar catatan harian. Disaat-saat seperti ini aku mendapati diriku seperti seorang pelaut yang enggan singgah. Seorang pelaut yang terus menantang ombak dan malam, tak hendak menepi, melego jangkar, untuk kemudian melepas lelah pada surau di suatu pesisir sebuah kota yang entah. Aku kira, perlu juga untuk mencuci muka, melarutkan bau asin dan bau malam.

Laut tak berbatas sejenak aku tinggalkan dibelakang, bersama bau asin dan malam. Gelap dan tak terduga.
***


Hari ini hari selasa, 13 Desember 2012.

Ini hari pertamaku kembali ke kampus, kembali pada lembaran teks-teks yang dimuntahkan melalui mulut orang-orang tua yang berdiri di depan laptop dan papan tulis. Ini hari pertamaku setelah berlibur kembali pada rutinitas yang sangat terukur dan pasti. Dua hal yang paling aku benci dalam hidup ini, sekaligus membutuhkannya.


Seorang teman menghampiriku, menatap tubuhku dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Ia berkata, sudah banyak yang aku lewatkan dalam beberapa semester ini, tentu aku tahu maksudnya; beberapa mata kuliah aku acuhkan. Itulah yang dimaksud dengan ketertinggalan. Sampai disitu aku paham. Lalu ia melanjutkan dengan mengubah posisi percakapan, ia mempersilakan aku untuk duduk sejenak, menanti mulut-mulut yang akan memuntahkan teks-teks itu tiba.


Ia bercerita banyak hal yang terjadi di kampus. Beberapa teman seangkatan sudah mulai menghadapi makalah 30 halaman dengan 10 refrensi, itu artinya setengah dari kami akan lebih dulu meninggalkan ku untuk ujian lisan mata kuliah ini.


Diluar, pagi masih menghijau. Matahari sesekali menyapa tubuh-tubuh wangi yang berderet terduduk kaku dan mekanis.


Dosen tiba, daftar kehadiran diputar, mahasiswa mendengarkan, tak ada yangi bertanya, berdebat,atau menampik semua teorinya. Beberapa tertidur, memainkan telepon genggamnya, atau membicarakan pertandingan bola semalam ini adalah hal yang menarik bagi kaum adam. Aku masih juga belum mengerti apa yang mereka bicarakan, apa yang mereka bawa ke ruangan ini. Sebab yang terdengar di telingaku hanyalah rentetan ucapan macam para petinggi negara. Tidak ada kontra-argumen, jadi aku memang tidak paham dimana letak perdebatannya. Aku sudah berusaha memperhalus pendengaranku, tetap saja yang ada hanya rengetan seperti suara kumbang. Ayolah, 5 menit pertama masih membuatku bertahan duduk mendengarkan dosen membacakan slide dari power pointnya tapi 10 menit kemudian ku mulai jumudd, dan sedikit ngantuk. Kurasa wajar jika ada mahasiswa tidur dikelas bukan salah mahasiswanya tapi juga salahkan dosennya yang membosankan itu juga.

Matahari semakin meninggi, beberapa mahasiswa yang sedari tadi tertidur, memainkan telepon genggamnya, membicarakan pertandingan bola, sudah mulai bosan karena jarum jam belum juga membebaskan tubuhnya. Sang dosen pun mulai banyak mengulang contoh yang sama, melewatkan banyak pembahasan, mulutnya sudah terlalu berbusa, teks-teks itu berhamburan di ruang kelas ber-AC ini, nama tokoh-tokoh dimuntahkan sebarangan, hingga akhirnya ia mengeluarkan sabda yang paling ditunggu-tunggu “Yaa, terimakasih untuk hari ini. Kita ketemu lagi minggu depan.”

Tak dinanya, bukan sulap bukan sihir semua orang yang diruangan itu yang nampak seperti bosan tiba-tiba wajahnya memerah sumringah.  Sampai disini, yang aku pahami dari kegiatan dikelas itu jangan salahkan Mahasiswa jika ia tidur dikelas, ngobrol sendiri atau memainkan telepon genggamnya jika cara Dosennya seperti itu. Bukankah keAbnormalan terjadi sebagai bentuk pemberontakan terhadap sistem yang terjadi.

Tapi bukan berarti Mahasiswanya terbebas dari dosa, ia juga berdosa mengapa ia tidak mempersiapkan materi yang akan disampaikan sebelumnya sehingga ia tak mampu mennyanggah atau sedikit berdebat. Padahal banyak sekali yang harus dikoreksi dari perkataannya. Ingin rasanya ku mempertanyakan apa yang ia keluarkan tapi sudah terlalu sering kumelakukan itu semua, menjadikanku malu sendiri!



Kelas bubar. Pikiran lenyap, teks-teks yang sedari tadi berhamburan itu menempel di dinding-dinding cuaca, untuk kemudian disapukan terik siang, lalu terbang bersama mega-mega ke negeri entah.


Ku luat awan hari itu, berharap pikiran yang sedari tadi dijejali ketidakmasukakalan ikut terbang, terbuang bersama awan putih. Bukan terbang saja, tapi kutoitipkan kepada awan, untuk kulihat apakah itu sesuatu yang benar atau justru kata-kata yang memukau tapi sesat?!


Sudah muak? Tenang, ambilah secangkir kopi, sebotol air putih, atau segelas es teh. Suka suka lah. Sebab ini baru pembukan sebuah pledoi ku. Ini akan jadi pembicaraan panjang. Sepanjang musim dan cuaca.

***

Awal semester 5 ini aku sudah mempersiapkan diri untuk masuk kedalam arus sungai. Tidak lagi memandang dari tepi jembatan. Tapi seorang teman mengingatkan, lebih baik duduk-duduk saja di pinggir sungai, menjuntaikan kaki untuk sesekali bermain dengan deras air. Jangan hanyut, jangan juga berjarak terlalu jauh.


Seorang teman lainnya berkata bahwa kritik terbaik itu adalah kritik yang datang dari dalam. Dari orang yang telah ‘selesai’ mencecap segala rasa di dalamnya. Ya, aku memang belum mencapai keputusan final tentang kedua tanggapan itu. Tapi sampai saat ini aku cukup menemukan konklusi yang ‘aman’. Aku memang tidak bisa menjadi ekstrimis, setidaknya aku sudah pernah mencoba. Paling tidak, dalam ukuranku aku sudah pernah mengalami bahkan melampauinya, menuju titik nadir sebuah keputusasaan.


Siapa yang tahan berlama-lama berada dalam kampus sementara dunia diluar sana menjanjikan banyak hal yang jauh lebih menarik. Siapa yang tahan mendengar celoteh mulut-mulut berbusa sementara diluar sana ia mendapat kesempatan belajar jauh lebih besar dari apa yang ia dapatkan di kampus. Siapa yang tahan menjalani suatu studi yang hanya mengajarkan teori, tapi tak konkret. Kata yang terakhir ini terinspirasi dari kakak yang merantau kepulau serbang. Dan nampaknya ia menyesal mengapa porsi tentang pendidikan lebih sedikit ia dapatkan sehingga sebatas membuat silabus, RPP maupun modul yang bagus ia tak mampu. Ah.. mungkin karena selama ini ia sangat tertarik dengan pulitik saja. Tapi ternyata benar! Porsi kependidikan di jurusanku tak lebih dari 30%. Selebihnya Hukum, Politik dan sedikit Filsafat.


Aku memang tidak merasa jenius, nilainya pun tak begitu bagus, tapi bagiku aku cukup pintar. Lagi-lagi perlu diingat; dalam ukuranku. Karena tidak ada yang membelaku kecuali diriku sendiri. Masuk jurusan ini bukanlah pilihan yang kusenangi. Aku juga tidak bisa menjamin kalau aku berada di jurusan yang aku inginkan, akan meraih ‘prestasi’ gemilang. Tapi setidaknya aku berani menjamin, aku tidak akan menyesal. Mari aku beri kalian sebuah pertanyaan. Akan lebih baik mana bila gagal oleh pilihan sendiri atau gagal karena dipilihkan oranglain? Setidaknya kalaupun aku gagal, tersungkur, jatuh, itu karena pilihanku. Tentu aku akan dengan lapang dada menerimanya, itu kegagalanku. Sebuah konsekuensi atas pilihan yang aku pilih. Kalau aku ‘berhasil’ pun akan lebih puas, sebab aku berhasil oleh pilihan dan kerja kerasku sendiri.

Untuk meyakinkan pilihanku Mari kita membuat hitung-hitungan sederhananya. Seorang teknisi komputer tak ada  yang menantang karena ia bersinggungan dengan benda mati. Sedangkan seorang guru, lebih tertantang masalah semakin rumit tidak hanya dengan siswanya yang juga menimbukan keruwetan. Tapi juga Pengurus sekolah dan pemerintah. inilah Pledoi untuk Kampus!!
Rabu, 05 Desember 2012

Lekas Sembuh

Masih jelas dalam ingatan. Tentang bagaimana digdaya kau melangkah. Menapaktilasi setiap sudut kehidupan. Juga tentang seberapa cerah wajahmu ketika ceria. Bersimpul senyum penuh pesona. Merupa tarian seribu malaikat yang memikat. Atau tentang semangat juangmu menerjang terjal jalananan. 
Kesabaran. 
Keteguhan. 
Ketegaran. 
Kekokohan jiwa tuk bertahan dan berdiri tegak. 

Segalamu. Tergambar jelas dalam benak. Tak mungkin terlupa. Karena mengenalmu adalah yang teristimewa. 

Sampai suatu ketika, kuasa langit menginginkanmu untuk jatuh. Sesaat setelah penyakit menggerogoti sehat dan kuatmu secara perlahan. Punggung yang dulu tegap, kini meruntuh pasrah. Memaksamu untuk lemah. Derap kaki yang dulu tegak, perlahan goyah. Hampir patah. Daya tak lagi seperti biasanya. Luntur, memudar, tak bersisa. 

Tapi, itu hanya katamu. 

Bagiku, asamu masih terang menyala. Menjelma pelita malam yang sinari kelam. Berwarna jingga keemasan yang pukau menenteramkan. 

Kaulah cahaya. 
Tak ada apapun yang dapat padamkan hanya jika kau mau terus menyala. 

Kaulah cahaya. 
Persoalan lemah atau tidak hanya berkisar pada seberapa mampu kau menjaga. 

Tubuhmu bisa meringkih. 
Tapi tidak untuk jiwa dan benakmu. 
Ia tetap tegak, kokoh, suci, putih. 

Langkah kakimu bisa goyah dan patah. 
Tapi tidak untuk asa dan semangatmu 
Ia tetap tegak, kuat, tegar tak terbantah. 

Lekaslah sembuh. 
Sinari lagi hidupmu. 
Sebab engkau. 
Adalah cahaya.


Selasa, 09 Oktober 2012

Bolehkah Berhenti?


Berhentilah makan sebelum kenyang
Berhentilah minum sebelum kembung
Berhentilah bekerja sebelum terkapar

Dan
itulah yang selalu ingin ku lakukan
hanya ingin istirahat ..
bolehkah aku sedikit egois??

Djogja, 9 Oktober 2012

Menjadi Orang Lemah

Di malam minggu ini rasanya sendiri, bahwa aku memang bukanlah melankolis. Melankolis adalah tipe orang yang amat peduli dan empati terhadap sesama, sehingga kehidupannya sangatlah dilingkupi orang-orang sesama melankolis yang peduli juga.

Selama ini saya hanya peramai, hanya sosok yang dikenal sebagai teman biasa. Ikut dalam senang-senang, sekedar sedih kala berduka. Saya nggak punya temen yang benar private mengerti dan peduli dengan kehidupan saya. Bahkan untuk saya sendiri mencoba share kepada kawan jadi amat sulit. Saya dipandang sebagai sosok kuat, hidupnya hanya untuk orang lain tanpa perlu orang lain ngerti soal saya. Saya bilang, yea its fine dan orang akan kembali tenang.

Saya merasa sebenarnya hidup ini begitu sepi saat sendiri, ketika sehat saya selalu melihat sesuatu untuk saya kerjakan. Hidup pun tak terasa habis untuk pekerjaan itu. Saat sakit barulah terasa, nyatanya nggak ada yg bisa saya kerjakan. Hidup pun jadi sepi, karena hidup ini tak ada yg menemani. Lekas sembuh jagoan(pecundang)!

Malam minggu yang saya habiskan hanya terbaring lemah, untuk bangkit mencari makan pun susah. Maafkan!

Djogja, 7 Oktober 2012
 
Jumat, 28 September 2012

Habis galau terbitlah terang


Bismillah

Semester Lima bagi kebanyakan orang, semester ini adalah semseter paling membosankan. Tetapi berbeda denganku Semster lima bagiku Istimewa dan sudah saatnya merapikan diri agar nampak pantas untuk menyandangnya. Jalanku memang berbeda dengan orang kebanyakan, karena diriku memang diriku. Awal masuk dan diterima menjadi mahasiswa UNY dengan jurusan PKnH menjadi tekanan batin tersendiri bagiku. Mengapa tidak? Aku yang awalnya adalah seorang siswa dengan jurusan IPA dan maling suka pelajaran KIMIA dengan cita-cita menjadi Insinyur dibidang Kimia harus masuk jurusan PKnH yang notabennya adalah anak sosial.
Menjadi mahasiswa dijurusan PKnH adalah penjara, yang mengekang kehidupanku dulu. Hal inilah yang menjadikanku mendapatkan nilai IP 3,09. Sesuatu yang setengah hati memang hasilnya tidak maksimal. Dan ini masih membekas hingga semester 2 yang hanya mampu memperoleh IP sebesar 3,34.
Awal semseter tiga, menjadikanku giat menuju perpus mencari Ilmu mengejar teman-temanku yang sudah melesat jauh dariku. Tempat terfaforit bagiku adalah lantai tiga sebelah barat, sembari memuutar lagu favoritku ku buka lembar demi lembar buku. Dari buku politik hingga Filsafat. Dan disanalah awal mula ku belajar tentang filsafat memang tidak banyak yang kupelajari karena memang bahasanya yang tinggi. Karena saking tingginya tidak cukup satukali baca namun aku harus mengulangnya hingga dua kali. Entah aku yang terlalu bodoh akupun tak tahu.
Membaca buku filsafat menjadikanku lebih mengutamakan hati dan rasio dalam bertindak begitupula dengan kuliah. Semseter tiga adalah puncak “kegalauan” akademik bagiku, karena bagiku kuliah itu tidak penting jika niat kita hanya belajar tanpa kita harus kuliah dan mendengarkan dosen ceramah cukup membaca buku diperpus kita juga bisa kok pinter dan dapet ilmunya. Dan inilah yang menyebabkanku lebih suka semedi dan membaca buku diperpus dari pada kuliah. Hingga kuliah sering bolos, apalagi kalo dosennya ngantukkin.
Namun setelahku beranjak menuju semster Lima, ketika kakak bilang “Hidup itu harus realistis walau terkadang pragmatis, karena itu memang realitasnya” anda pasti bingung, tapi bagiku itu pernyataan yang menohok sekali. Ibu juga sering bilang “Dek.. Ilmu iku tentu, tapi ben kowe dipandeng karo wong liya lan dirongokkake kudu nduweni status, nek ko ra nduwe status mbokan kowe pinterre kaya ngopo langka sing ngerongok ake, iki indonesia dudu “surga”,” Mulai saat itulah aku bangkit dan merapikan hati dan otak yang berantakkan karena kegalauan.
Ibarat kata habis galau terbitlah terang. hehehe ^^

Djogja, 28 September 2012
Yekti Ambarwati
Kamis, 20 September 2012

Kembali


Kadang hidup dihujani kepenatan.
Tak dapat berpikir ataupun mengerti,
hanya kegundahan yang datang menghampiri.
Melepaskannya memang terasa sulit,
tapi mencoba tak ada salahnya.
Karena bumi tak menyediakan, maka kembalilah kepada-Nya

Djogja, 20 September 2012
-YaLogic-

Qona'ah


Bismillah..

Udara hari ini panas sekali, hingga menusuk ubun-ubun. Begitupula dengan atomsfer orang-orang idealis (semoga demikian) disekitar hidupku sekarang. Menuliskannya dan mempublikasikannyapun bisa menambah suatu atmosfer baru (may be^^)  yang penting sampai disini jangan emosi duluan ya Gan ^^. Apalagi sampai makan laptop/computer/ Hp di depanmu.. wuah-wuah itumah terlalu.  

Alasan pertama mengapa harus menuliskannya, karena seperti catatanku sebelumnya. Ini dalah tulisan sampah jadi harus segera dibuang dari otak aye, yaitu melewati tulisan ini. Sampai disini mau diterusin baca, atau tidak itu terserah anda, karena toh.. dibaca atau tidak itu perkara selera dan aye kagak bisa memaksakan kehendak.

Mengapa dibilang atmosfer panas?? Wuah-wuahh lebay banget kayaknya yak? Seberanya kagak panas-panas amat sih, Cuma lagi pengin hiperbola aje biar terkesan waow gitu… seperti para orang-orang yang idealis dan yang mengaku idealis (orang yang idealis cuuung,… yang ngacung itu… memang idealis atau ngaku-ngaku idealis -_-“ ??). hahahahaha…. Sumonggoh koreksi diri sendiri, karena gua bukan “Allah” yang Maha menilai dan penghakim yang adil. Kalo saudara tanya aye idealis atau kagak, pasti cukup tak kasih jawaban “^_^” dan silahkan tafsirkan sendiri.

Seperti biasa malam ini ku buka FB. Jreng-jreng….. wuah, ternyata tak kunjung padam juga baranya. “Hahahaha…..baguslah..”. bukan nape-nape ye. Cuma seneng aja liat temen-temen pada rebut, kalo ribut pasti ngrasa ada masalah, jika merasa ada masalah berarti ada proses belajar ^_^. Perkara bener atau salah?? Aye yakin, setiap orang belum tentu baca buku yang sama. Setiap buku pasti membawa pengalaman dan doktrinasi tertentu. Makanya sesuatu benar atau salah itu perkara yang “subyektif” kecuali yang bersumber dari Allah SWT, aye yakin 100% itu Obyektif, gan…

Nah.. makin panas aje niyh. Sebenarnya yang kepanasan itu Cuma satu pihak dengan membuat boneka. Boneka?? Iya jadi dia yang bikin perkara dialah pemainnya tapi seolah-olah orang lain yang memainkannya. Nah.. yang dulu suka main boneka cunggg… [kalo yang ngacung cowok,.. itu yang perlu diwaspadai ^_^ hehehe..]


Ini nih,,, yang menarik, orang yang kagak tahu, jadi horror duluan. “apa-apaan sih ini.. orang mikirin kayak gini jadi horo deh, ah.. mendingan gua belajar terus cumlaude, dari pada mikirin kayak gini kagak ngaruh sama nilai IP gua,”  bisa jadi akan menimbulkan "Apatis itu lebih baik!!!" kayak gini. maaf gan.. ini Cuma analisis dangkalku kok, karena terinspirasi dari kisah pribadi,  jadi jangan sampai dimasukin ke hati apalagi jantung. Hehehe…

Kalo menurut aye, ini Cuma persoalan manajemen komunikasi saja, dalam segala aspek kehidupan yang namanya komunikasi pasti diperlukan agar suatu tak menjadi konflik yang bekepanjangan. Dan masalah ini juga bisa jadi persoalan komunikasi. Masing- masing kelompok tidak adanya komunikasi yang bagus, atau bisa jadi salah satu kelompok menolak adanya “tabayun” [mungkin takut… hehehe..peace]. Sebelum saling menghina dan menjustifikasi sebaiknya dikomunikasikan terlebih dahulu dimana yang salah. Itu tuh.. salah satu pendidikan politik. 

Dan bagi kawan-kawan yang belum tahu duduk permasalahanya jangan ikut triak-triak deh.. tukutnya nanti palah semakin panas aje. Lihatlah dengan kedua bola mata. Allah memberikan bola mata dua ada maksudnya. Obyeknya satu, mbok yo.. lihatnya pake dua bola mata kanan dan kiri. Bisa jadi masing-masing kubu punya kepentingan ^^.Karena kepentingan adalah bensinya motor [ hehehehe.. kagak nyambungyah???] cukup berfikir cerdas saja mana yang dikira nyaman dan lebih mendekatkan diri kepada Allah, mana yang tidak. Jika dikubu A lebih dirasa sholat dan ibadahnya joss ya silahkan ikut kubu A, tapi jika ternyata masuk kubu A menjadikannya tambah ogah-ogahan ibadanhya, ogah-ogahan belajarnya yo biarkan ia memilih kubu B yang lebih memfasilitasi. bukankah tugas kita hanya menawarkan tidak untuk memaksa??
Ini dah... yang lebih parah lagi jika konfliknya dengan cara menghujat. lebih lagi dengan bikin kebohongan publik kayak contohnya Aktor palsu hanya untuk mengecohkan lawan politiknya, mengeneralisir kesalahan seseorang agar kubu lawan politiknya koleps, dan masih banyak lagi. Katanya mau sportif?? Kok pada kayak gitu yah?? Kalo sportif jangan saling menghujat kayak gitu dong dan seolah-olah “kelompoknya paling benar” Hayooo… ngaku selama ini yang menghujat siapa?? (cungggggg…. Hahaha). Kecuali buat perkara yang sudah membelok dari aturan Agama, semisal Nabi Muhammad dihina, wuah aye siap nimpuki tuh orang (karena aye kagak punya kekuatan cukup pake Ilmu dan do'a aje deh.. Insya Allah).

Aye jadi inget kata saudara yang pernah tak ajak diskusi, katanya cukup “Qona’ah” sajalah. Jangan terlalu berlebihan, berekspektasi yang berlebihan terhadap sesuatu yang bukan berasal dari Allah itu tidak baik untuk kesehatan ?. kalo menurutmu Gimana gan?? itung-itung bagi ilmu siapa tahu aye yang salah prespektif.. soalnya buku bacaanya dan gurunya beda-beda. masing-masing bacaan membawa satu misi doktrinasi tertentu. Owh iya berbicara doktrinasi... itu tuh yang kadangkala menimbulkan konflik. ajarin aye tentang itu dong ^^

Qo’naah. Kayaknya satu kata yang menyelesaikan masalah, tapi itu pan bagi gua kagak tahu bagimu ^^.

Oh iya... jangan menghilangkan persaudaraan kita sesama manusia hanya persoalan perbedaan pandangan yah?? soalnya banyak yang sudah terjangkit penyakit itu.. ^^

labirin otak, 20 September 2012
-YaLogic- 

Keluarlah!

Keluarlah dari ketakutan dan kebencian
Keluarlah dari lingkaran kejumuddan
Lihatlah langit bintang yang bertaburan
disana ada keindahan

Djogja, 20 September 2012
-YaLogic-
Sabtu, 15 September 2012

Kotaku Pecah


gelap berselimut dingin
kotaku kembali anyir

antara detik waktu
semilir tangis riuh ombak
tugulufa pecah
pinus terbelah
putih pasir
dan ombak
tak lagi seirama

tangisnya nanti...

Djogja, 15 September 2012

Habis!!!


Habis kata
Habislah kita

Maka Ombak, bukanlah pantai
Maka deru, bukanlah kereta
Maka Hujan, tak hendak basah
Maka Pahit, tak pasti melidah

Tapi perih, tentulah luka
Meski ucap tak jadi kata

Maka habislah kita

Dan, aku...
Hanyalah aku
Dan, kata
Hanyalah batu
karena jiwa telah layu

Ukhuwah itu sederhana


Aku butuh luka yang lebih perih
dari ketika kau menabur garam pada sayatan yang menganga

aku butuh tangis yang lebih sendu
dari ketika kau meratapi sebuah kehilangan

Agar  bisa menerima ukhuwah yang paling sederhana
lebih dari sedekahnya seorang pengemis untuk pengemis lainnya

dan ukhuwah memang bukan harga
tapi  nilai tak terukur, sesederhana apapun adanya
Seperti tunas-tunas belia yang mengecup cahaya
Seolah matahari adalah kekasih yang dia rindukan
Hingga terus tumbuh menjadi pohon dewasa


 Djogja, 15 September 2012
teruntuk saudara yang menanyakan tentang ukhuwah

Tergantung Niat!!


"Jangan takut akan dikata sok suci atau dikata ri'a dalam menyampaikan sebuah kebaikan oleh lingkungan, jangan takut akan pujian maupun cacian karenanya. Jika itu adalah hal yang baik, maka sampaikanlah,"  kalimat ini disampaikan oleh Ustadz Syatori pada ceramahnya di KRPH yang lalu.

Berat juga memang bagi orang seperti saya, ketika dunia menyampaikan banyak negatifitas dan sayapun tak jarang mengikutinya. Namun, tinggal dilingkungan yang begini adanya. Bisa dibilang bebas dan jauh dari guru yang memang bisa mendidik cerdas tentang sebuah norma, etika dan moral, khususnya tentang kepercayaan yang saya anut.

Pernah, bahkan sering membaca kalimat sindiran di media sosial seperti twitter atau facebook bahkan di dunia yang bisa tatap muka secara langsung, padahal sama-sama menganut kepercayaan yang sama. Kalimat sindiran itu bermula ketika seseorang menulis status akan/telah shalat atau menyuruh shalat kepada yang lain, atau ketika sedang saum dia menulis mengenai saumnya di hari itu, lalu ditanggapi dengan sindiran yang intinya mencap seseorang yang menyampaikannya tergolong Ria, Soksuci ataupun Munafik. Ini memang terjadi dilingkungan saya.

Ada baiknya berbaik sangka pada sesama, apalagi ini kaitannya dengan seseorang yang kepercayaan seseorang itu adalah sama dengan kita. Apalagi tak ada yang tahu mengenai hati seorang manusia kecuali tuhannya. Begitu indahnya jika positifitas dan saling menasehati lalu menerima nasehat yang bahkan datang dari anak kecil sekalipun. Sekiranya dia adalah tukang pukul namun kadang menulis tentang kebaikan. Mungkin ada baiknya mengikuti kebaikan itu, dan tidak mengikuti sisi tukang pukulnya. Juga tak ada yang tahu tukang pukul itu akan menjadi orang yang gemar sujud diatas sajadah suatu hari nanti.

 Jika dan hanya jika ingin menjadi orang yang baik, ada baiknya pula jangan hinakan kebaikan orang lain dan proses untuk mencapainya. May be...!

Hatilah penyebabnya


warna jingga merona di ufuk senja menghiasi indahnya cakrawala.
Sang surya pun perlahan mulai tenggelam di balik awan kelam.
Dan sebentar gelap pun akan menyelimuti semesta.

Tampak diriku sedang berdiri terpaku sambil menatap langit yang mulai menggelap.
Desir sang bayu terasa lembut menerpa wajahku.
Yang sambil membisikkan rayuan ke dalam anganku.
wajah yang belakangan seringkali kusam karena ulahku

Perlahan ku gambar seketsanya
Dan kulihat satu guratan jelas penyebanya
Ohh.... 
Perih...!!!
Hati, ternyata hatilah penyebabnya

Djogja, 15 September 2012
Jagalah hati, karena hati adalah pengendali
jagalah hati, dengan mengingat Sang Pemilik hati

Berbeda


Sejenak ku tutup mata
mencari ketenangan di tengah keramaian
untuk sebuah peristiwa
yang mengorbankan perasaan

Bagiku, itu biasa karna "aku"
yang telah membiasakanku
terhadap kesalahanku
tapi bisaa juga karena "kau"

ah.. entahlah berbicara "aku" dan "kau"
selalu menguras emosiku
karena "kau" dan "aku" tak ingin bersatu

perbedaan bukanlah alasan
walau perbedaan sering memunculkan

-YaLogic-
Djogja, 15 September 2012
Minggu, 09 September 2012

Barat vs Jawa


Bismillah..

entah mengapa, tiba-tiba aliran darah dalam otak mengalir kencang, jantung berdegub kencang bak drum alunan musik rock. Setelah ku membuat tulisan yang sebenarnya mengejanya pun belum fasih, dengan “sarunya” ku membicarakannya. Tiba-tiba ada satu hal lagi yang mengganjal otakku ketika ku buka buku “Political Theory”. Buku yang harus ku lahap habis dalam waktu 2 minggu.
Seringkali ku tepuk jhidat, ketika melihat buku itu, bukan karena ku tak sanggup membacanya. Hanya saja mengkaji Al-Qur’an dan Hadist saja belum jua tamat. Tapi ilmu dunia seringkali menuntutku untuk menyelesaikannya.
 Kita tahu, ilmu-ilmu dunia berkembang dari sebuah kajian yang bernama “Filsafat” hingga filsafat dijuluki dengan sebutan bapaknya ilmu oleh sebagian filusuf. Terserah, bagiku semua ilmu dunia sudah terangkum dalam satu refrensi besar yaitu “Al-Qur’an”. Namun, entah mengapa kita termasuk saya seringkali lebih bangga ketika kita mengambil dalil-dalil orang Barat dibandingkan dalil dalam Al-Qur’an.
Tapi maaf saudara, tulisan kali ini tidak akan membahas tentang Filsafat barat dan Al-Qur’an karena saya takut berdialektika tentang hal itu. Takut kebelinger tepatnya. Saya hanya membandingkan Orang barat dengan tanah kelahiranku “Jawa”. Ada yang menarik perhatianku ketika membandingkan keduanya Berbeda dengan filsafat Barat, yang berakar dari filsafat Yunani (Socrates dkk.), jika dalam filsafat barat kita akan diajak untuk mencari unus terkecil dalam suatu subyek, maka dalam filsafat jawa berbeda. Karena bagi orang jawa semua adalah perkara pekerjaan.
Bukan tugas manusia memikirkannya. Jika plato memikirkan tentang bagaimana timbulnya suatu negara dan politik maka orang jawa tidak perlu memikirkan bagaimana menjadi sebuah negara dan bagaimana ada politik namun cukup bagaimana menjadi cukup bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik, agara negaranya aman, tentran dan bahagia.
Filsafat jawa membicarakan hal-hal yang lebih sederhana dan mendalam. Orang Jawa tidak mau pusing-pusing memikirkan apakah bumi berbentuk bulat ataukah lonjong, tapi yang penting adalah bagaimana manusia menjaga keselarasan (harmoni) dengan alam semesta, dan terlebih lagi dengan sesamanya: ‘uripku aja nganti duwe mungsuh’ inilah yang senantiasa ditekankankan oleh Simbah kakungku saat sowan ketempatnya.
 Filsafat Jawa mengajarkan kehidupan yang sederhana, dan menginsyafi bahwa harta benda tidaklah memberikan kebahagiaan yang hakiki: ‘sugih durung karuan seneng, ora duwe durung karuan susah’. Meski demikian manusia harus bekerja: ‘urip kudu nyambut gawe’, dan mengetahui kedudukannya di dalam tatanan masyarakat.  Manusia Jawa percaya bahwa setiap orang memiliki tempatnya sendiri-sendiri: ‘pipi padha pipi, bokong padha bokong’ seperti celotehan si mbah phitruk salah satu tokoh dalam punokawan. Kebijaksanaan kuno ini bahkan selaras dengan ilmu manajemen modern yang mengajarkan bahwa setiap individu harus memilih profesi yang cocok dengan karakternya. Setelah menemukan bidang profesi yang cocok, hendaknya kita fokus pada bidang tersebut, sebab jika kita tidak fokus akhirnya tak satupun pekerjaan yang terselesaikan: ‘Urip iku pindha wong njajan. Kabeh ora bisa dipangan. Miliha sing bisa kepangan.’
-labirin otak, 9 September 2012-
karena hanya sebuah dalektika, bisa saja keliru karena saya bukanlah Tuhan yang Maha Benar ^^
Jika ada yang salah mohon diluruskan :D

Anda Tuhankah???


Menuliskan ide ke dalam tulisan ini susah sekali, otak serasa mandeg dan jemari serasa kaku. Tepat satu bulan sudah, jemari-jemariku tak ku latih untuk menulis lagi. Namun, itu bukanlah alasan, atau mungkin karena sudah lama otak ini tidak bekerja, maklum masih dalam kondisi liburan pasca lebaran. 
Hemm,, akhir-akhir ini ada yang menarik, ini tentang Tuhan. waduh.. sepertinya horor juga yah??. Tuhan?? kayak udah fasih saja, mengeja namanya saja masih kelu lidah ini. palah mau ngoceh tentang-Nya. 
(Maafkan hambamu ini ya Allah, telah lancang semoga saja ada yang menegur jika pemikiran saya salah dengan petunjuk-Mu)

Tuhan-tuhan di tempatku tinggal seketika terjeruji dan lenyap, seperti yang dikatakan Nietzsche.  Itu kenyataannya, bukan “Tuhan” yang sesungguhnya. Bukankah kita ini sekadar hamba Tuhan yang kalaupun punya kedudukan tinggi, tak kurang dan tak lebih hanyalah sebagai khalifah-Nya di muka bumi ini? Jadi, tak layaklah kita melenyapkan Tuhan bahkan menuhan-nuhankan diri. Namun, kenyataannya?

Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang tiba-tiba men-Tuhan-kan diri dan melenyapkan Tuhan dari perilaku keseharian. Kecuali mereka yang berpegang teguh pada Agama, karena Agama pastilah bermuara pada "Tuhan" (Allah). Seperti sungai, walau berbeda-beda madzhabnya pastilah bermuara pada satu lautan yaitu Allah.  Jangan sampai masing-masing mengklaim diri yang paling benar dan dengan demikian berarti telah menuhankan diri.

Jangan sampai masing-masing mengklaim diri yang paling benar dan dengan demikian berarti telah menuhankan diri. Demikian pula kiai, ustad, dan kita masing-masing harus mengalir dan menyatu kembali dengan Tuhan sehingga sebenarnya apa pun perbedaannya pada dasarnya satu jua. Perbedaan akan selalu menjadi benih konflik jika ia tetap berhenti pada perbedaan itu sendiri tanpa mau menyatu kepada Tuhan.

Akan tetapi, menyatu bukan berarti lalu kita berhak menyatakan diri menjadi Tuhan lantaran menjadi tuhan saja pun tak boleh. Yang boleh dilakukan adalah mebenahi diri agar roh yang diberikan Allah dapat mencerminkan dimensi ketuhanan. Memang, semua gerak mereka harus menuhan atau menuju Tuhan dan melebur dalam identitas Tuhan (atau mungkin, secara kebahasaan, tepatnya identitas ke-Tuhan-an), tetapi jelas mereka tetap tidak dapat berubah menjadi Tuhan. Kalaupun misalnya dalam paham “wihdatul wujud” ada yang sampai berpengakuan “Annal-Haq” (Akulah Tuhan), sebagaimana yang (mungkin) terjadi pada Syech Siti Jenar, hal itu tetaplah mesti dipahami sebagai “keterbatasan pengakuan kebahasaan” atas “identitas ke-Tuhan-an” dirinya sebagai makhluk Tuhan.

Yang pasti, apa pun ungkapan yang terlontar dari proses menuhan atau me(n)-Tuhan itu, yang terpenting bukanlah ungkapannya, tetapi proses dan hasil penyatuannya yang kedua-duanya itu, gampangnya, kita “serahkan” saja kepada Tuhan lantaran semua ini menyangkut dimensi rohani (roh). Sebab, Tuhan sendirilah yang bilang bahwa perihal roh itu adalah urusan-Nya. Maka, kita tidak boleh hanya sibuk bertikai mengenai bahasa ungkap kerohanian atau ke-Tuhan-an, tetapi mestilah segera menyatu dalam hakikat kerohanian/ke-Tuhan-an itu.
Dalam bahasa yang lebih mudah, proses menuju/menyatu dengan Tuhan ini adalah apabila kita beribadah, baik mahdah maupun muamalah, hendaknya itu diniatkan hanya demi Tuhan alias mesti ikhlas karena Allah karena hanya itulah yang akan mengantarkan kita kepada-Nya

-labirin otak, 9 September 2012-
just dialektikaku, jika ada yang keliru mohon dikoreksi karena pengetahuanku masih terbatas ^^
Minggu, 05 Agustus 2012

Lihatlah dengan dua Bola Mata

Hari ini, tepat 5 Agustus 2012 saat transkrip hasil wawancara seharian di kampus tiba-tiba muncul sebuah ide untuk membuka tutup penaku lagi. Sekarang tepat pukul 22.48 ku ketik beberapa kata setelah melihat seorang kawan mengenakan kaos bergambar mantan orang nomor satu di Indonesia yaitu “Soekarno”. Siapa orang yang tak tahu namanya?? Hanya orang gila dan anak-anak kecil yang belum sekolah.
Hampir semua orang di negeri ini kini memuji sosok beliau. Berbeda sekali ketika zaman orde baru (Orba), karena ketika itu Soekarno dianggap penjahat, dengan gerakan komunisnya. Dan kini hal itu berbalik arah kepada Soeharto. Soeharto yang dulu menghujat habis-habisan Soeharto, sekarang berbalik arah kepadanya. Soehartolah yang kini banyak di hujat, karena kesalahanya yaitu Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
Meski dalam namanya tersematkan gelar “Bapak Pembangunan”, ternyata di akhir ceritanya dia menjadi penjahat Negara yang kejam dan tak pantas dipuji lagi. “Gara-gara nila setitik rusaklah susu sebelanga” inilah yang terjadi padanya. Masyarakat nampaknya lupa terhadap jasa-jasa yang ia berikan kepada Negara ini.
Dan pada akhirnya didunia ini serba bolak-balik. Orang yang dulu dipuji bisa jadi esok akan dihujat habis-habisan. Karena ini berawal dari pemikiran. Pemikiran akan berkembang dari detik kedetik tanpa henti dan akan berhenti disaat dunia ini berhenti. Jika anda bertanya lantas siapa yang benar?? Aku pun ta tahu dengan jelas, karena bagiku kebenaran hanya milik Allah, karena Dialah yang Maha benar.
Mengklaim diri menjadi orang paling benar tak layak, karena aku bukan tuhan dan akupun tak ingin mencari musuh. Jalanlah dengan jalanmu dan biarkan aku berjalan dengan jalanku, dan ingatkanlah aku jika jalanku terlalu menyimpang jauh dari tali agama Allah. Karena tugas kita sebelum jadi apapun adalah Da’I, yang mengajarkan kebaikan.

NB: Hemmm…. Maaf bapak soeharto udah membicarakanmu di sini.
Mohon berikan pencerahan jika tulisan ini terlalu melenceng, cause just my short opinion dan tulisan ini tidak memiliki tendensi untuk mengajak membela sikap Soeharto hanya saja cobalah melihat dengan objektif. Jika dalam kepemimpinannya ada yang positif dan adapula yang negative.

Tulisan ra’ mutu of the day
-Labirin otak, yang tak tahu ujungngnya-
 
Sabtu, 16 Juni 2012

Demokrasi itu???


Hemmmm... hingga malam begini hatiku masih saja kalut. Entah apa yang ada diotakku kini, tapi yang jelas aku semakin kalut dengan apa yang ku ketahui. Hingga-hingga sahabatku berkata "kayaknya lama-lama kamu gila deh?" uajrnya saat kita ngobrol disalah satu sudut kampus.

Jleb-jleb... tertohok, itulah yang kurasakan saat itu. Benar juga, mungkin aku semakin gila. Semakin mengerti dan belajar semakin membuat pikiranku tak menentu, hatiku gelisah saban hari, jantungku berdebar tak menentu. mungkin benar kata ibuku "Menjadi petani didesa lebih nyaman mbak, dari pada kamu sekolah

Esok, senin 18 Juni aku harus mengikuti UAS Hukum Islam dan Politik Lokal. "Wuahhh... materinya berat kiy" ujarku dalam hati. Walau aku orang islam tapi untuk mempelajari hukum islam sangatlah susah. Mungkin karena saya bodoh kali yak?? tapi yang jelas Islam sangatlah kompleks hampir segi-segi kehidupan terjamah dengan rapi dan indah.

Untuk mata kuliah yang kedua ini, Politik Lokal. "Haluffttt... muak gua sama yang ginian" hatiku pun memberontak
Bagiku belajar politik, bisa dibilang baru. Dari awal memang saya tidak tertarik untuk mempelajari politik, karena bagiku mempelajari kimia dengan tabel periodiknya lebih menarik. Lebih lagi ngutek-ngutek komputer waduhhh,, demen banget t uh. Sampai-sampai setelah aku lulus SMA pengin banget masuk STT Telkom, tapi apalah daya uang tak mampu. Masuk kesana biyaya semesterannya busyetMasya Allah sekali. Hingga menghalangiku masuk. Maklum aku adalah anak petani, yang berasal dari pesisir selatan.

Kembali ke masalah Politik, etelah saya masuk di UNY dengan jurusan Pendidikan Kewarganegaraan & Hukum (PKnH) baru saya mengenal yang namanya politik, demokrasi, hukum, konstitusi, dan saudara-saudaranya. Hemmmm..sampai-sampai muak, bukan apa-apa karena semakin ku pelajari teorinya semakin ku muak dengan negara dan masyarakat. kali ini saya akan mengambil contoh yang sederhana mengenai "Demokrasi"

 Demokrasi, siapa yang tak kenal dengan yang satu ini?? (dijamin hidupnya paling nyaman deh). Demokrasi jika kita menggunakan arti yang bias digunakan atau dikutip banyak orang yaitu "dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat". Dari kata-kata tersebut kita bisa lihat bahawasanya sistem ini menginginkan adanya kehadiran panggung politik untuk rakyat. Dengan berjalannya waktu, konsep demokrasipun mengalami adaptasi karena konsepnya yang luas sehingga sangat utopis,dan demokrasi beradaptasi menjadi "Demokrasi Perwakilan". Hal ini nampak terlihat ketika dipemerintahan terdapat senat, lembaga legeslatif dan sedarah. Dari sini kemudian muncul, suatu yang hedonis sekali ketika "wakil" yang muncul adalah mereka yang menang dan memperoleh suara terbanyak.

(hahahahahaha... jadi ingat dengan perkataan mba hanif "tenang saja Wakil rakyat memang telah mewakili rakyat dengan baik dan benar kok, Mewakili rakyat yang pengin punya mobil mewah, mewakili rakyat yang pengin punya rumah mewah, mewakili rakyat yang pengin jalan-jalan keluar negeri, dan mewakili-mewakili yang lain)

Jika demikian adanya saya pikir demokrasi tidak cocok diterapkan di Indonesia. Alasan pertama, adalah ketika seseorang menang atas nama "suara terbanyak" maka disini memunculkan suatu kesan satu kuantitas yang memiliki ideologi yang sama hingga mengesampingkan kualitas. Mungkin demokrasi akan mecerdaskan rakyat, karena masing-masing akan mengkritik dan memiih wakil-wakilnya. Namun, masalah yang kedua adalah "suara terbanyak" memberikan konsekuensi jika akan menang maka mereka harus menguasai sumber-sumber ekonomi, sosial bahkan politik dengan berbagai macam cara termasuk didalamnya money politic.

Maka tak heran, Benjamin Franklin, seseorang yang pernah menjabat sebagai presiden di negeri yang mengagung-agungkan demokrasi, Amerika Serikat, sekali waktu pernah beranalogi bahwa “demokrasi adalah dua serigala dan satu domba. Mereka bertiga voting untuk menentukan apa yang akan mereka santap untuk makan siang”. 

Amerika yang mengaggung-agungkan demokrasi ini, juga ternyata berselingkuh dengan ideologinya sendiri. Kita bisa ambil contoh, Amerika adalah negara yang membantu Israel untuk menyerang Palestina, belum maslah Yaman, Lebanon yang tidak jauh dengan campur tangan amerika. karena Amerika ingin mendirikan demokrasi. Sebenarnya demokrasi semacam apa yang diinginkan Amerika?? katanya demokrasi tapi tega menyuruh tentara-tentaranya membunuh wanita-wanita dan anak-anak??. Kalau mereka benar-benar demokratis mestinya proses demokrasi itu juga meliputi kebebasan bagi negara lain untuk “memusyawarahkan” dan “memilih” sistem pemerintahan yang terbaik menurut pandangan mereka. Pendeknya, demokrasi itu dipaksakan kepada pihak lain.

Demokrasi bertujuan untuk menjembatani semua pendapat, dan pada mulanya, seperti kasus historis negara-kota Athena pada abad ke 4 atau 5. Mufakat bisa dicapai jika orang-orang berpikir apa solusi terbaik untuk suatu masalah, bukan “apa yang akan saya dapatkan jika solusinya seperti ini”. Tanpa kepentingan pribadi macam tadi, setidaknya makna demokrasi tak akan terdistorsi meski dengan pungutan suara sekalipun.Kembali ke Indonesia, solusi benama "nasionalisme"  pun ditawarkan untuk mencegah berbagai macam kepentingan pribadi, golongan, atau primordial tersebut. Semua kepentingan kemudian diatas namakan untuk bangsa dan negara. Namun benarkah berapa orang kini yang memiliki nilai-nilai macam itu? Sebab nasionalisme Indonesia sendiri, masih dipahami sebagai reaksi berupa perlawanan terhadap kolonialisme. Padahal, kolonialisme sendiri sudah hilang dari bumi Nusantara, sementara masalah yang dihadapi sudah sedemikian kompleksnya sehingga egoisme etnik dan kedaerahan adalah masalah yang dianggap “wajar” sebagai akibat dari kebijakan otonomi daerah. 

Saya tak tahu apa solusi berupa nasionalisme ini dapat membantu. Namun pada akhirnya, tak ada sebuah sistem yang benar-benar sempurna. Komunisme misalnya, yang menurut Richard M. Ketchum akan selalu dekat dengan pemerintahan totalitarian, sehingga mengedepankan kepentingan seorang diktator ketimbang rakyatnya. Dan kini demokrasi, yang banyaknya kepentingan di sana mengaburkan satu tujuan yang menyeluruh dan padu. 


-Labirin Otak- 
17 Juni 2012